Jalan Rusak Kembali Muncul Pascahujan, DPRD DKI Soroti Kinerja Perbaikan

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Bun Joi Phiau menyoroti jalan berlubang yang kerap muncul setelah hujan deras maupun banjir melanda Ibu Kota.

Tribun Jakarta/Yusuf Bachtiar/Yusuf Bachtiar
JALAN BERLUBANG - Petugas Bina Marga tengah melakukan perbaikan berupa penambalan jalan berlubang di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Bun Joi Phiau menyoroti persoalan jalan berlubang yang kerap muncul setelah hujan deras maupun banjir melanda Ibu Kota.

Menurut Bun Joi, kondisi jalan berlubang bukan sekadar persoalan kenyamanan atau estetika kota, tetapi sudah menyangkut keselamatan nyawa warga, khususnya para pengendara sepeda motor.

“Masalah jalan berlubang pascahujan atau banjir di Jakarta memang selalu mendapat sorotan tajam. Ini harus dilaksanakan secepat mungkin perbaikannya. Perbaikan jalan bukan hanya soal estetika, melainkan keselamatan nyawa warga,” kata Bun Joi, Senin (26/1/2026). 

Ia pun mendesak Dinas Bina Marga untuk bergerak cepat dan tidak menunggu laporan dari masyarakat.

Menurutnya, dinas terkait harus bersikap proaktif dengan melakukan patroli jalan secara rutin, terutama setelah hujan reda.

“Dinas tidak boleh pasif menunggu laporan warga. Harus ada patroli rutin untuk memetakan titik-titik lubang baru setelah hujan,” ujarnya.

Bun Joi mengingatkan, lubang jalan yang tertutup genangan air sangat berbahaya, terutama bagi pengendara motor, dan kerap menjadi penyebab kecelakaan fatal.

“Lubang kecil yang tergenang air itu sangat berbahaya. Pengendara sering tidak menyadarinya dan ini bisa berakibat fatal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai perbaikan jalan tidak bisa terus-menerus mengandalkan metode tambal sulam, terutama pada ruas jalan yang sudah rusak parah atau memiliki usia teknis yang tua.

“Untuk jalan yang sudah rusak parah, harus didorong dilakukan pembangunan ulang seperti overlay atau betonisasi, bukan sekadar tambal sulam,” tegas Bun Joi.

Menurutnya, tambal sulam sering kali tidak bertahan lama dan kembali rusak saat hujan atau banjir berikutnya, sehingga anggaran yang dikeluarkan menjadi tidak efektif.

“Biasanya tambal sulam tidak bertahan lama dan akan terkelupas lagi saat terkena air hujan atau banjir. Ini terkesan anggaran terbuang sia-sia,” ucapnya.

Sebagai Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Bun Joi berharap Pemprov DKI Jakarta bisa lebih siaga satu dalam pemeliharaan jalan. 

Menggunakan anggaran secara efektif untuk perbaikan permanen, serta memastikan koordinasi antar-dinas berjalan optimal.

“Harapannya, Pemprov DKI lebih siaga satu dalam pemeliharaan jalan, menggunakan anggaran secara efektif, dan memastikan koordinasi antar-dinas berjalan agar jalan tidak terus-menerus rusak akibat genangan,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved