Dialog Interaktif Bareng Legislator, Banyak Anak Muda Kurang Puas Kebijakan Pemprov DKI Jakarta

Warga berdiskusi dengan empat legislator muda DPRD DKI Jakarta, Sabtu (28/2/2026). Banyak anak muda kurang puas dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta.

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Dialog interaktif bertajuk “Touchbase amé DPRD: Rempug Longok Dapur Kebijakan Kité”, digelar di Kopikina Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (28/2/2026). 

Kegiatan tersebut diprakarsai Bijak Memantau, sebuah gerakan edukasi politik independen berbasis teknologi yang bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses kebijakan publik.

"Touchbase kami desain di tingkat DPRD karena di sinilah aspirasi warga sebenarnya bisa langsung diterjemahkan menjadi pengawasan kebijakan dan anggaran," Efraim Leonard, perwakilan Sekretariat Bijak.

KRITIK KEBIJAKAN PUBLIK - Dialog Interaktif bertajuk “Touchbase amé DPRD: Rempug Longok Dapur Kebijakan Kité”, digelar di Kopikina Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (28/2/2026). Dihadiri empat anggota DPRD DKI Jakarta, Elva Farhi Qolbina, Ghozi Zulazmi, Uwais El-Qoroni dan Farah Savira. (Yusuf Bachtiar/TribunJakarta).
KRITIK KEBIJAKAN PUBLIK - Dialog Interaktif bertajuk “Touchbase amé DPRD: Rempug Longok Dapur Kebijakan Kité”, digelar di Kopikina Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (28/2/2026). Dihadiri empat anggota DPRD DKI Jakarta, Elva Farhi Qolbina, Ghozi Zulazmi, Uwais El-Qoroni dan Farah Savira. (Yusuf Bachtiar/TribunJakarta). (TribunJakarta/Yusuf Bachtiar)

Kegiatan tersebut mempertemukan warga kelas menengah urban dengan anggota DPRD Jakarta, mereka yang hadir diantaranya Ghozi Zulazmi, Elva Farhi Qolbina, Uwais El-Qoroni dan Farah Savira. 

Keempat legislator muda itu diuji wawasan dengan berbagai pertanyaan dan pertanyaan, mereka juga dimintai tanggapan soal arah kebijakan publik di Jakarta. 

Dalam forum tersebut, ratusan audiens diajak ikut serta dalam menilai sebuah kebijakan publik di Jakarta apakah sudah sepakat atau tidak. 

Sesi interaktif ini diberi nama “Red Flag/Green Flag: Rate and Review Hidup di Jakarta”, Red Flag artinya sepakat atau setuju sementara Green Flag tandanya tidak setuju. 

Setiap anggota DPRD diminta merespons berbagai persoalan mendasar terkait kelayakan hidup, mulai dari kualitas layanan pendidikan dan jaminan kesehatan hingga arah kebijakan sosial, tata ruang, dan transportasi publik. 

Masing-masing anggota diberikan bendera merah dan hijau untuk menilai suatu pernyataan terkait kebijakan publik yang sudah dijalankan Pemprov DKI Jakarta.

Dari setiap pernyataan yang dilempar dalam forum, banyak audiens dan anggota DPRD DKI Jakarta tidak sepakat atau menganggat Red Flag. 

Contohnya ketika ada pernyataan soal anggaran pendidikan di Jakarta, lebih banyak audiens yang merasa belum puas dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta.

Sementara dari keempat anggota DPRD yang hadir, tiga diantaranya mengangkat Red Flag dan satu memilih Green Flag. 

Hal yang sama juga terjadi ketika forum melempar pernyataan soal narasi Jakarta Kota Global, banyak audiens yang merasa belum puas atau tidak sepakat dengan hal itu. 

Sedangkan anggota DPRD yang hadir, Elva Farhi Qolbina, Ghozi Zulazmi dan Uwais El-Qoroni kompak mengangkat Red Flag sedangkan Farah Savira memilih Green Flag. 

Di dalam forum tersebut, narasi Kota Global dirasa belum tercermin jika dilihat dari komposisi anggaran di Jakarta yang masih terfokus pada bantuan sosial. 

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved