Gubernur Pramono Angkat Bicara Jakarta Panas Terik, Suhu Tembus 35 Derajat Celcius

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung buka suara soal panas ekstrem yang dalam beberapa hari terakhir ini melanda Ibu Kota.

Tayang:
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir/Jaisy Rahman Tohir
JAKARTA MASUKI MUSIM KEMARAU - Cuaca panas terik di Jalan Puri Mutiara II, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026). Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji menyebut suhu panas Jakarta disebabkan karena memasuki musim kemarau. 

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung buka suara soal panas ekstrem yang dalam beberapa hari terakhir ini melanda Ibu Kota.

Pramono bilang, Pemprov DKI saat ini belum berencana merekayasa cuaca atau membuat hujan buatan untuk menurunkan suhu udara.

“Jakarta masih belum memerlukan dibuat hujan buatan,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026).

Cuaca Masih Dinamis Jelang Lebaran

Politikus senior PDIP itu menjelaskan bahwa saat ini kondisi cuaca di Jakarta masih bersifat dinamis karena sedang masuk masa peralihan musim.

Karena itu, masyarakat diminta untuk terus memantau perkembangan cuaca, khususnya menjelang dan saat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

“Untuk menghadapi Idulfitri, memang data BMKG menunjukkan sebelumnya itu cuacanya panas,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari BMKG, Pramono juga mengungkap adanya potensi hujan yang turun saat Lebaran nanti.

“Saat Idulfitri ada kemungkinan curah hujan menengah,” kata Gubernur Pramono Anung.

Panas Ekstrem, Suhu Udara Jakarta Sentuh 35 Derajat Celcius 

Panas menyengat terasa di Jakarta dalam beberapa terakhir, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara Ibu Kota menembus 35 derajat Celcius.

“Dalam beberapa hari terakhir suhu udara maksimum yang terukur di wilayah Jakarta mencapai 35,4 derajat Celcius, tepatnya di wilayah Jakarta Timur,” ucap Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Ida Pramuwardani saat dikonfirmasi, Minggu (15/3/2026).

Cuaca Panas Dipicu Masa Peralihan Musim

Ida menjelaskan, suhu udara yang terasa lebih panas dari biasanya ini dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologis.

Salah satunya adalah berkurangnya tutupan awan sehingga radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih optimal.

“Suhu udara yang terasa lebih panas juga dipengaruhi kecepatan angin yang relatif lemah sehingga sirkulasi udara tidak berlangsung efektif,” ujarnya.

Ida menyebut, kondisi ini memang kerap terjadi pada masa peralihan musim atau yang biasa disebut pancaroba.

“Kondisi tersebut sering terjadi pada masa peralihan musim ketika langit cenderung lebih cerah pada siang hari, sehingga pemanasan maksimum dapat berlangsung lebih kuat,” tuturnya.

Panas Ekstrem Berpotensi Terjadi Bebeberapa Hari ke Depan

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved