Jakarta Terancam Darurat Sampah, Kenneth DPRD DKI Dorong Sistem Terpadu dan PLTSa
Hardiyanto Kenneth, menekankan pentingnya langkah konkret pembenahan sistem pengelolaan sampah di Jakarta.
Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
"Tidak bisa lagi parsial. Sistem harus dibentuk dari sumber sampah, pengangkutan, hingga pengolahan akhir," tegasnya.
Dalam aspek edukasi, ia menekankan pentingnya kampanye publik secara masif melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk transportasi umum, televisi, dan media sosial.
"Edukasi harus diperluas. Bisa melalui Bus Transjakarta, televisi, hingga media sosial. Harus ada satu narasi besar tentang pengelolaan sampah yang terus disampaikan ke masyarakat secara konsisten. Ini soal perubahan perilaku, jadi tidak bisa instan," tuturnya.
TIRU NEGARA LAIN
Kenneth pun membeberkan sejumlah negara di Asia telah menunjukkan praktik pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan.
Seperti Singapura, misalnya, menerapkan aturan ketat dengan dukungan teknologi insinerasi modern yang mampu mengubah limbah menjadi energi.
Sistem ini membuat volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
"Lalu di Jepang, masyarakat diwajibkan memilah sampah secara rinci. Kepatuhan warga yang tinggi, ditopang edukasi sejak dini, menjadi kunci keberhasilan sistem tersebut.
Dan sementara Korea Selatan mengandalkan pendekatan berbasis teknologi dan insentif ekonomi, termasuk sistem pembayaran berdasarkan volume sampah yang dihasilkan," bebernya.
Lalu, sambung dia, transformasi juga dilakukan Taiwan yang berhasil keluar dari krisis sampah melalui kebijakan tegas dan partisipasi publik. Adapun Malaysia terus berbenah melalui pengurangan plastik dan peningkatan standar pengelolaan tempat pembuangan akhir.
Sementara itu, Kenneth pun menyambut positif penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov DKI Jakarta, dengan Danantara terkait rencana pembangunan dua fasilitas PLTSa.
Menurutnya, kerja sama tersebut dapat menjadi langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks di Jakarta, sekaligus mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif.
"Pada prinsipnya kami mendukung langkah Pemprov yang mencoba mencari solusi inovatif terhadap persoalan sampah. PLTSa bisa menjadi salah satu jawaban, asalkan dirancang dengan matang dan transparan," ujarnya.
Meski demikian, Kenneth mengingatkan agar proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan, kesehatan, serta keberlanjutan.
"Harus dipastikan teknologi yang digunakan ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi baru. Jangan sampai niat menyelesaikan masalah sampah justru menimbulkan persoalan lain. Lalu Saya minta semua prosesnya harus transparan. Saya tentu akan melakukan fungsi pengawasan agar proyek ini benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.
Selain itu, Kennsth mengingatkan bahwa keberadaan PLTSa tidak boleh mengabaikan upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Edukasi dan sistem pemilahan tetap harus menjadi prioritas utama.
| Sebulan Tak Diangkut, Tumpukan Sampah Kotori Permukiman Kalibaru hingga Cemari Kolam Retensi |
|
|---|
| Sampah Dari Kepulauan Seribu Sedikit, Kehadiran PSEL Perkuat Pengelolaan Jadi Nol Residu |
|
|---|
| Pansus DPRD DKI Jakarta: Gerakan Pilah Sampah Butuh Dukungan Anggaran |
|
|---|
| Jakarta Darurat Sampah, Politikus PDIP Lantang di Rapat Pansus: Aturan yang Ada Tidak Berdaya Guna |
|
|---|
| Sampah Jakarta Diolah Jadi Listrik, DKI-Danantara Sepakat Bangun 2 PSEL di Tanjung & Bantargebang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/PEMBENAHAN-SISTEM-PENGELOLAAN-SAMPAH.jpg)