Demo di DPR, Guru Honorer Tanggapi Pidato Viral Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar'

Guru honorer dari berbagai daerah yang tengah menggelar aksi unjuk rasa pun turut menanggapi pernyataan pidato Prabowo

Tayang:
Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA PUTRA
GURU HONORER - Ali, guru honorer asal Tulungagung, Jawa Timur menanggapi pidato Prabowo yang menyebut rakyat desa tak pakai dolar. 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Pidato Presiden Prabowo Subianto tengah mendapat sorotan warganet.

Hal itu terkait ucapan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.

Di mana dalam acara tersebut, Prabowo berkelakar mengenai pergerakan nilai tukar rupiah yang memecahkan rekor terlemah di angka Rp 17.700-an.

Menurutnya, perputaran ekonomi mikro di daerah tidak bergantung penuh pada mata uang asing.

"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" ujar Presiden Prabowo.

Ditanggapi Guru Honorer

Sejumlah guru honorer dari berbagai daerah yang tengah menggelar aksi unjuk rasa pun turut menanggapi pernyataan pidato  Prabowo yang menyebut rakyat desa tak pakai dolar.

Dedi Misnoto, guru honorer asal Bondowoso, Jawa Timur menyayangkan ucapan Prabowo.

​"Kita memang tidak memakai dolar secara langsung, tapi dolar itu dipakai untuk kepentingan seluruh kebutuhan industri di Indonesia," ujar Dedi, Rabu (20/5/2026).

"Nah, yang menggunakan hasil produksi industri itu siapa? Mau orang besar atau orang kecil, semua kena," tambahnya.

Menurut Dedi, dolar merupakan jembatan ekonomi Indonesia dengan luar negeri sehingga sangat berpengaruh terhadap harga-harga di tanah air.

​"Ya memang masyarakat tidak pakai dolar untuk belanja harian, tetapi dolar itu menjadi bagian jembatan ekonomi Indonesia dengan luar negeri," tuturnya.

​Hal senada diungkapkan oleh Ali, guru honorer asal Tulungagung, Jawa Timur. Ia kurang sependapat jika dampak fluktuasi dolar hanya dirasakan oleh segelintir kalangan.

​Menurut Ali, tingginya ketergantungan para pengusaha terhadap dolar untuk impor bahan baku pada akhirnya akan membebani konsumen akhir.

​"Para pengusaha itu memerlukan dolar. Efeknya, barang-barang yang diproduksi dan dipasarkan di masyarakat akan melonjak juga harganya. Walaupun tidak secara langsung, pasti ada dampaknya dan itu terasa sekali," jelas Ali.

​Sementara itu, Aci, guru honorer asal Sukabumi, Jawa Barat menyoroti perbandingan antara kehidupan di kota dan di desa yang sempat disinggung terkait pusaran mata uang asing ini.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved