Ketua APLSI Soroti Peran Engineer di Era Digital dan Transformasi Energi Bersih

APLSI menyoroti peran engineer di era digital dan transformasi energi di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor energi fosil.

Tayang:
Istimewa
TRANSISI ENERGI BERSIH - JAKARTA - Ketua Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI), Eka Satria, saat orasi ilmiah Wisuda ke-48 Institut Teknologi PLN di Sasana Kriya TMII, Jakarta Timur, Kamis, 21 Mei 2026 lalu, ia bicara soal transisi energi bersih. (Istimewa/APLSI). 

Menurut Eka, transformasi tidak cukup hanya mengganti energi fosil menggunakan energi baru terbarukan. 

Indonesia harus membangun sistem engeri yang lebih cerdas, efisien, bersih, andal, dan tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Transformasi energi harus mencari titik optimum antara affordability, sustainability, dan reliability,” ucapnya.

Eka menegaskan, Indonesia masih membutuhkan gas bumi dan batu bara selama masa transisi engeri berlangsung. 

Kedua energi fosil tersebut dipadukan dengan dengan teknologi penangkapan karbon atau carbon capture storage (CCS).

Selain itu, digitalisasi akan menjadi motor utama dalam menggerakkan sistem energi masa depan. 

Penggunaan smart meter, artificial intelligence (AI), drone inspection, predictive maintenance, hingga digital twin dinilai akan membuat sistem energi lebih efisien dan andal.

Untuk itu, ia mendorong lahirnya talenta engineer yang tidak hanya memahami mesin dan pembangkit listrik, tetapi juga menguasai data, AI, perangkat lunak, dan keamanan siber.

“Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan tetap manusianya. Saya percaya generasi kalian akan menjadi bagian dari perubahan tersebut,” kata Eka di hadapan wisudawan.

Pria lulusan Teknik Sipil ITB itu memulai karir di Bukittinggi, Sumatera Barat sebagai structural engineer di perusahaan migas asal Amerika Serikat, ARCO. 

Tantangan terbesar seorang engineer menurut dia bukan hanya mampu menguasai pengetahuan teknis, tetapi bisa bekerja dalam tim, mengambil keputusan dan menjaga integritas. 

“Engineer bukan hanya membangun mesin atau pembangkit, tetapi juga membangun kepercayaan dan masa depan, karena masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang kita miliki, tetapi juga oleh kualitas dan Inovasi manusia yang mengelolanya.” tandasnya.

Berita terkait

 

Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved