Kantor Pusat Didemo Karyawan, Indomaret Buka Suara, Ini Pernyataan Lengkap Manajemen
Aksi demo karyawan di depan kantor pusat Indomaret di PIK, Penjaringan, Jakarta Utara, mendapat tanggapan manajemen, Selasa (26/5/2026).
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Aksi demonstrasi karyawan di depan kantor pusat PT Indomarco Prismatama atau Indomaret di PIK, Penjaringan, Jakarta Utara, mendapat tanggapan langsung dari manajemen.
Executive Director Customer Relationship Management (CRM) PT Indomarco Prismatama, Gondo Sudjoni buka suara menanggapi tuntutan pekerja terkait perubahan skema lembur hingga tudingan intimidasi di sejumlah cabang.
Gondo mengatakan perusahaan menerima seluruh aspirasi yang disampaikan karyawan dan memastikan persoalan tersebut sedang dibahas bersama.
"Kami semuanya menampung semua aspirasi yang masuk ke kami. Untuk kemudian nanti dibicarakan bersama," kata Gondo, Selasa (26/5/2026).
Ia menyebut polemik yang muncul saat ini kemungkinan dipicu perbedaan persepsi di lapangan.
Menurutnya, Indomaret tidak menghapus kebijakan lembur secara keseluruhan seperti yang disuarakan sebagian pekerja.
"Jadi kita tidak benar-benar menghapuskan lembur. Ada yang diganti hari libur, ada juga yang masih dibayarkan upah lemburnya," ujarnya.
Gondo menjelaskan, skema penggantian lembur saat ini masih dalam pembahasan di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker).
Menurut dia, mediasi juga melibatkan perwakilan pekerja dan serikat buruh.
"Selain ada di sini yang menyampaikan aspirasinya, kita juga sedang ada pertemuan di kementerian untuk membahas hal ini. Nanti mungkin ada titik temu yang akan diumumkan setelah pembahasan selesai," katanya.
Saat ditanya soal kepastian kriteria lembur mana yang dibayar dan mana yang diganti hari libur, Gondo belum memberikan rincian.
"Nah ini yang lagi dibahas di sana. Jadi saya belum mendahului," ucapnya.
Gondo mengatakan penyesuaian kebijakan dilakukan di tengah meningkatnya tekanan biaya operasional perusahaan.
Ia menyebut kenaikan BBM, kemasan, bahan baku, hingga distribusi membuat beban usaha semakin tinggi.
"Semua biaya semakin tinggi. Ini berakibat kepada biaya operasional," ujarnya.