DPRD DKI Soroti Kesiapan Jakarta Hadapi Penghentian Open Dumping pada Agustus 2026

Pengelolaan sampah di Jakarta tidak lagi bisa mengandalkan pola lama yang berfokus pada pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir.

Tayang:
Tribun Jakarta/Yusuf Bachtiar/Yusuf Bachtiar
SOROTI OPEN DUMPING - Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike menyoroti kesiapan Jakarta menghadapi penghentian open dumping TPST Bantargebang. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike menilai, pengelolaan sampah di Jakarta tidak lagi bisa mengandalkan pola lama yang berfokus pada pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir.

Menurut Yuke, persoalan sampah yang selama ini menjadi pekerjaan rumah Jakarta harus ditangani secara menyeluruh mulai dari hulu, tengah, hingga hilir, terlebih menjelang penghentian praktik open dumping yang dijadwalkan berlaku pada Agustus 2026.

"Persoalan sampah sudah menjadi pekerjaan rumah dari periode ke periode. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa hanya mengandalkan hilir. Hulu dan tengahnya juga harus diselesaikan melalui gerakan yang lebih masif dan terukur," kata Yuke, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan, kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang semakin terbatas membuat pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi kebutuhan mendesak.

Karena itu, Yuke mendorong optimalisasi implementasi Pergub Nomor 77 Tahun 2020 yang mengatur pengelolaan sampah di tingkat RW melalui bank sampah.

Menurutnya, keberadaan bank sampah tidak hanya berfungsi mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Selain itu, sejumlah fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia juga perlu dimaksimalkan pemanfaatannya.

Yuke menyinggung keberadaan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Bantargebang dan Rorotan, serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang dinilai masih memiliki ruang untuk dioptimalkan.

RDF Rorotan, misalnya, dirancang mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari. Namun, saat ini fasilitas tersebut disebut masih beroperasi di bawah kapasitas ideal.

Menurut Yuke, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan waktu untuk memenuhi target penghentian open dumping.

Ke depan, sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir harus terlebih dahulu melalui proses pengolahan sehingga hanya menyisakan residu.

"Kondisi ini berdampak pada berkurangnya ritase pengangkutan sampah ke Bantargebang sehingga di sejumlah wilayah proses pengangkutan menjadi lebih lambat," katanya.

Yuke mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui program Jaga Jakarta Bersih yang mendorong pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kesiapan masyarakat serta sistem pengelolaan yang mampu menampung hasil pemilahan sampah.

Komisi D DPRD DKI Jakarta juga mendorong pengembangan ekonomi sirkular melalui pengolahan kompos dan budidaya maggot.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved