Kisah Warga Aceh Sumbang Rp 200 untuk Pembelian Pesawat Pertama RI, Hasil Jual Anak Sapi

“Bedanya, surat Nyak Sandang ditulis tangan, sementara surat milik ayahnya diketik,” terang dia.

Istimewa
Fotokopi obligasi senilai Rp 5600 atasnama Keuchik Abdullah yang diterbitkan untuk keperluan pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, pada tahun 1950. 

TRIBUNJAKARTA.COM, BIREUN - Pemegang obligasi pembelian pesawat RI 001 mulai bermuculan setelah fenomena Nyak Sandang.

Salah satunya adalah Razali Berdan, warga Desa Juli Tgk Dilampoh, Kecamatan Juli, Bireuen.

Razali mengungkapkan, dia tak pernah lupa amanah almarhum bapaknya Tgk H Berdan Walad agar tidak membuang dan menyimpan surat tanda penerima pendaftaran pinjaman nasional yang dimilikinya.

Karena, ungkap Razali, menurut sang ayah yang meninggal dunia sekitar tahun 2006 lalu, suatu hari nanti surat berharga berupa bukti pinjaman nasional itu akan dibayar oleh negara.

Baca: Adik Mendiang Presiden ke-2 RI Soeharto, Probosutedjo Dikabarkan Meninggal Dunia

“Makanya, saya simpan baik-baik surat utang ini. Selain karena amanah bapak saya, juga karena janji Yusuf Kalla saat kampanye perdana pasangan Jokowi-JK di Tijue, Sigli pada 5 Juni 2014 lalu,” ungkapnya didampingi Sekdes Juli Tgk Dilampoh, Iwan Rahadian kepada wartawan, Jumat (23/3) sore.

Bahkan, untuk menghindari semakin lapuk atau sobek, surat buram tertanggal 28-8-1950 itupun dipress dan dia simpan dengan baik.

Semasa hidupnya, ucap dia, sering kali ayahnya Berdan Wala, yang lahir pada tahun 1917 itu bercerita tentang surat tersebut kepada dirinya dan bagaimana proses hingga memberikan pinjaman uang sebesar Rp 200 (dua ratus Rupiah) itu.

“Bahkan, pernah semasa konflik dulu, saat masa darurat militer diberlakukan di Aceh, dia pernah menunjukkan surat tersebut kepada para tentara dari Kodam Siliwangi, Jawa Barat yang bertugas di daerahnya. Mereka minta surat itu, tapi cuma saya kasih fotokopiannya saja, surat asli tetap saya simpan,” bebernya.

Baca: Luhut Pandjaitan: Siapa yang Mengibul? Saya Minta Golkar Tidak Ikut-ikutan

“Tak hanya tentara, sejumlah pihak lainnya juga pernah minta dikirimkan surat tersebut, bahkan hingga sampai ke Swedia,” ungkap dia.

Namun, setelah itu tak ada kejelasan dan kabar berita apa yang akan dilakukan dengan surat bukti pinjaman kepada negara tersebut.

“Sempat ada harapan, utang tersebut akan dibayar ketika kampanye Jusuf Kalla di Sigli, namun sampai saat ini belum juga ada kebijakan dari pemerintah,” ucapnya.

Nah, ketika berita tentang Nyak Sandang mulai heboh, sebagai salah satu penyumbang pembelian pesawat pertama RI dengan memperlihatkan bukti surat seperti yang dimilikinya, baru dia mengetahui bahwa ternyata itu merupakan surat obligasi.

“Bedanya, surat Nyak Sandang ditulis tangan, sementara surat milik ayahnya diketik,” terang dia.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved