Rohaniawan Amerika: Bom Surabaya Mencoreng Umat Muslim, Karakter Buruk Tidak Dikenal dari Agamanya

"Jelas itu salah. Itu mencoreng umat Muslim. Saya sendiri sangat menghormati umat Muslim. Umat Muslim di Indonesia merupakan umat yang rendah hati,"

Rohaniawan Amerika: Bom Surabaya Mencoreng Umat Muslim, Karakter Buruk Tidak Dikenal dari Agamanya
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Elder Mcwhorter selaku Pembina Rohani Muda yang mengajarkan bahasa Inggris di Gereja Yesus Kristus Indonesia. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, TEBET - Remaja asal Texas, Amerika Serikat, Elder Mcwhorter (19) yang menjadi Pembina Muda Rohani di Gereja Yesus Kristus di bilangan Jakarta Selatan mengungkapkan keprihatinannya terkait aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris yang meledakkan di tiga gereja Surabaya.

"Saya turut prihatin dan sangat sedih sekali dengan apa yang menimpa jemaat Indonesia di Surabaya," ungkapnya kepada TribunJakarta.com, Rabu (16/5/2018).

Baca: Polisi Benarkan Tangkap Dua Terduga Teroris di Tangerang

Bahkan, remaja yang telah tinggal selama 11 bulan di Jakarta untuk mengajar jemaat Gereja Yesus Kristus pelajaran Bahasa Inggris serta rohani ini berujar bahwa oknum yang meledakkan diri itu merupakan tindakan yang salah.

"Jelas itu salah. Itu mencoreng umat Muslim. Saya sendiri sangat menghormati umat Muslim. Umat Muslim di Indonesia merupakan umat yang rendah hati," terangnya.

Baca: Warga Bantar Gebang Ancam Tutup Tempat Pengelohan Sampah Jika Dana Kompensasi Bau Tidak Cair

Ia pun berujar bahwa kejahatan bukan dilihat dari apa agama dari pelaku teror.

"Setiap orang itu memiliki karakter yang memang baik atau tidak baik. Tidak dilihat dari agamanya. Bukan berarti yang meledakkan diri itu baik, itu salah. Tidak benar sama sekali," lanjutnya.

Baca: Pascateror di Sejumlah Kantor Polisi, Mapolres Jakarta Timur Perketat Keamanan

Sementara itu, banyak warga barat yang tak mengetahui muslim yang sebenarnya, alhasil seringkali sering salah kaprah.

"Banyak orang Barat tidak tahu mengenai Muslim karena penduduk Muslim yang sedikit di sana. Sehingga mereka kadang langsung salah menghubungkan isu tersebut dengan agama. Itu yang salah, tak seperti apa yang mungkin dibayangkan," pungkasnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help