Pemkot Depok Diminta Beri Pelatihan Komputer dan Customer Service ke Penyandang Disabilitas

Pasalnya pelatihan pijat yang diberikan Pemkot Depok tak mampu menjamin kehidupan penyandang disabilitas

Pemkot Depok Diminta Beri Pelatihan Komputer dan Customer Service ke Penyandang Disabilitas
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Ketua DPC Pertuni Depok, Mohammad Faisal (42) di Pancoran Mas, Depok Rabu (10/10/2018).  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DPC Kota Depok, Mohammad Faisal berharap Pemkot Depok dapat memberi pelatihan mengoperasikan komputer dan customer service kepada tuna netra di Depok.

Pasalnya pelatihan pijat yang diberikan Pemkot Depok tak mampu menjamin kehidupan penyandang disabilitas yang kerap ditolak perusahaan saat melamar kerja.

"Kita maunya ada pelatihan mengoperasikan komputer dan jadi customer service. Penghasilan pijat enggak besar, kalau diajari cara mengoperasikan komputer atau jadi customer service penghasilan pasti lebih baik," kata Faisal di Pancoran Mas, Depok, Selasa (4/12/2018).

Faisal menuturkan telah mengajukan hal ini kepada Pemkot Depok sejak tahun 2015, atau sejak Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Sosial masih jadi satu.

Namun permintaan tersebut tak kunjung dipenuhi Pemkot Depok dengan alasan anggaran tak memadai untuk menggelar pelatihan.

"Kami tahu anggaran enggak cukup kalau semua penyandang disabilitas langsung dilatih, tapi kan bisa bertahap. Dalam satu minggu ada dua kali pertemuan misalnya. Ini permintaan sejak lama sebenarnya," ujarnya.

Selain sulit secara penghasilan, pelatihan pijat bagi tuna netra kian menimbulkan kesan kemampuan penyandang disabilitas tak setara dengan masyarakat lain.

Padahal, beberapa bank ternama di wilayah Jabodetabek memperkejakan tuna netra di bidang yang berkaitan dengan komputer, termasuk anggota Pertuni Depok.

"Mungkin banyak yang mikir kalau tuna netra enggak bisa pakai komputer, atau harus ada keyboard braillenya. Padahal enggak, seperti orang main alat musik saja. Kan banyak musisi tuna netra, tapi mereka bisa. Untuk komputer kita butuh sensor suara saja," tuturnya.

Cek Lewat Link Ini! BKN Umumkan Sebanyak 537 Instansi Rilis Hasil SKD & Peserta SKB

Persija Pantas Juara, Jakampus UIN Jakarta Tak Ambil Pusing Soal Pengaturan Skor

Perihal pelatihan pijat, Faisal juga mengkritik pelatihan selama satu minggu dan hanya diberikan satu tahun sekali oleh Pemkot Depok melalui Dinas Sosial.

Adanya batasan jumlah peserta kian mengurangi manfaat pelatihan, mengingat banyak anggota Pertuni yang ingin diterima kerja sebagai terapis pijat di tempat ternama.

"Secara logika enggak mungkin orang bisa ahli mijat dalam waktu singkat. Kalau enggak ahli gimana mereka bisa diterima kerja di tempat-tempat pijat atau hotel. Perusahaan kan mintanya tenaga ahli. Sekarang teman-teman kalau mau belajar harus otodidak, dan enggak ada rekomendasi juga dari Pemkot Depok," lanjut Faisal.

Penulis: Bima Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved