Cerita Wali Kota Bogor Bima Arya Tak Ingin Terima Hadiah Ulang Tahun untuk Berantas Korupsi
Sebagai Wali Kota Bogor petahana, Bima Arya Sugiarto mengaku sudah kenyang pengalaman mengendus praktek korupsi di lingkungan birokrat.
TRIBUNJAKARTA.COM - Sebagai Wali Kota Bogor petahana, Bima Arya Sugiarto mengaku sudah kenyang pengalaman mengendus praktek korupsi di lingkungan birokrat.
Bima Arya mengaku perlu usaha keras dan keyakinan dari dalam diri sendiri agar tak terjebak dalam pusaran korupsi.
Kader Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengatakan salah satu cara dirinya untuk memotong mata rantai korupsi adalah dengan menolak hadiah ulang tahun.
“Dulu yang kasih kado saya banyak, sekarang tak ada sama sekali, saya tidak mau memiliki utang atau balas budi dengan menerima kado, hal itu yang perlu dilakukan untuk memutus mata rantai korupsi,” ujar Bima Arya saat menjadi pembicara dalam acara “Diseminasi Strategi Nasional Pencegahan Korupsi” di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2018).
Bima Arya yang mengenakan kemeja putih dan lengan panjang menjelaskan melalui pengalamannya sebagai walikota ada lima jenis korupsi yaitu korupsi karena kebutuhan, korupsi karena keadaan, korupsi yang keterusan, korupsi karena kelalaian, dan korupsi kejahatan.
Bima Arya Sugiarto sendiri memberi atensi besar kepada korupsi karena keadaan.
“Contohnya saya pernah menerima banyak proposal permintaan bantuan dari masyarakat untuk buat pondok pesantren, sunatan, menikah, dan lain sebagainya, tapi gila jika ditotal angkanya sampai Rp 1 miliar per bulan, sementara dana yang dialokasikan hanya Rp 30 juta,” jelasnya.
• Viral, Pengemudi Ojek Online Berhasil Gagalkan Rencana Bunuh Diri Seorang Wanita
• Mengenal Pelatih Baru Timnas Indonesia Simon McMenemy, dari Filipina hingga Bhayangkara FC
“Jika kemudian karena perasaan tak enak atau balas budi, kepala daerah bisa mencari dana yang tak sesuai prosesur untuk menyanggupinya,” imbuhnya.
Bima Arya Sugiarto mengakui bahwa untuk mengatasi korupsi di daerah membutuhkan integritas pimpinannya.
“Tak perlu buat sistem dulu deh, yang penting integritas kepala daerahnya, harus dimulai dari pucuk pimpinannya, kalau ada bawahan saya habis dari luar kota saya selalu katakan jangan kasih oleh-oleh ke saya,” pungkasnya.
Tentang pemimpin
Bima Arya mengakui menjadi pemimpin tidak mudah. Jebakan pertama yang harus dihadapi kepala daerah adalah terlalu fokus pada quick wins alias gebrakan yang langsung terasa efeknya.
“Ini itu dibikin gratis. Mempercantik ini itu. Padahal, belum tentu dibutuhkan masyarakat. Cuma agar jadi media darling,” kata Bima Arya dalam acara Rebut 2024 yang digelar Asumsi di The Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan.
Rebut 2024 adalah aksi yang diinisiasi Asumsi.co untuk mengajak anak muda Indonesia melihat ke masa depan dan mempersiapkan diri dalam menghadapi era disrupsi.
Tepatnya ke tahun 2024 di mana Indonesia telah dipimpin oleh generasi baru politisi dan diperkirakan telah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income).
• Mengenal Pelatih Baru Timnas Indonesia Simon McMenemy, dari Filipina hingga Bhayangkara FC
• Segini Tarif Hidayat yang Nekat Bunuh Siska Icun Sulastri Sebelum Menggaulinya