Daging Asal Kanada Dihancurkan di Bandara Soekarno-Hatta Waspada Penyakit Sapi Gila
Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini mengatakan, daging-daging tersebut didatangkan atau diekspor dari negara Kanada.
Penulis: Ega Alfreda | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda
TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Kementerian Pertanian Republil Indonesia melakukan pemusnahan 37 kilogram daging yang diselundupkan ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini mengatakan, daging-daging tersebut didatangkan atau diekspor dari negara Kanada.
Rincian daging tersebut berupa daging sapi segar seberat 25,9 kilogram, daging babi seberat 8,3 kilogram, daging ayam seberat 3,1 kilogram, total keseluruhan sekira 37 kilogram.
Kata Banun, daging tersebut dimusnahkan, karena tak memiliki health certificate atau sertifikat kesehatan.
"Daging ini berasal dari Kanada, dimana negara itu masuk dalam outbreak dan rentan dengan penyakit sapi gila. Kemudian, saat daging itu masuk dan kita cek, ternyata tidak ada sertifikatnya dan langsung kita lakukan penyitaan dan dilakukan pemusnahan," kata Banun di Balai Karantina Hewan Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (25/1/2019).
• Mengandung Larva Lalat, Badan Karantina Pertanian Curiga Jambu Kiriman Thailand Bio Terorism
Ujar Banun, daging yang berasal dari Kanada dan negara yang dikategorikan dalam outbreak perlu diawasi secara ketat.
Sebab, lanjut Banun, virus dan bakteri yang dibawa pada daging tersebut bisa berdampak fatal bagi sumber daya alam hayati Indonesia
"Karena sampai saat ini pun belum ada obatnya untuk penyakit sapi gila itu. Bahkan untuk menghilangkan bakteri atau virus itu sangat susah, dengan proses pembakaran hingg 700 derajat celsius saja belum tentu bakteri dan virusnya hilang," kata Banun.
Tidak hanya Kanada saja, tapi beberapa negara juga diwaspadai mengalami outbreak seperti Malaysia dan Cina.
Sebab, bila penyakit itu menjangkit Indonesia akan berpengaruh kepada daya impor daging dari Indonesia.
"Kalau nanti negara terkena outbreak pasti banyak negara yang menolak ekspor dari negara yang outbreak itu. Itu berpengaruh sama daya impor," tukas Banun.
Beberapa komponen lainnya yang dihancurkan di Balai Karantima Hewan yakni, lada, jahe dan jambu air lantaran mengandung bakteri berbahaya bagi sumber daya alam hayati.