WNA di Tangerang Terlibat Sindikat Kejahatan Dunia Maya: Menyamar Jadi Pemain Bola Antarkampung

"Ada dua yang setelah kami selidiki, ternyata terlibat dalam kejahatan media sosial. Mereka adalah WN Bangladesh dan Nigeria," kata Herman

WNA di Tangerang Terlibat Sindikat Kejahatan Dunia Maya: Menyamar Jadi Pemain Bola Antarkampung
TribunJakarta/Ega Alfreda
Kepala Kantor Imigrasi Tangerang, Herman Lukman saat mengadakan ungkap kasus tindakan pidana yang dilakukan WNA di Kota Tangerang, Kamis (14/3/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Dua warga negara asing (WNA) ditangkap dan dideportase dari Kota Tangerang karena terbukti terlibat dalam kejahatan media sosial atau cyber crime berupa penipuan.

Kepala Kantor Imigrasi Tangerang, Herman Lukman mengatakan, jajarannya juga mendeportasi 20 WNA lainnya yang bermasalah dan tinggal di sebuah apartemen di Kota Tangerang.

"Ada dua yang setelah kami selidiki, ternyata terlibat dalam kejahatan media sosial. Mereka adalah WN Bangladesh dan Nigeria, keduanya tengah dalam penyelidikan lebih lanjut, " jelas Herman di Kantor Imigrasi Tangerang, Kamis (14/3/2019).

Bersamaan dengan itu, ada sebanyak 11 WNA lain yang sudah dideportasi pada bulan Januari.

Kemudian berlanjut di Februari sebanyak 11 orang dan pada Maret ini sebanyak tiga orang.

Kata Herman, kebanyakan dari WNA yang melanggar dan terjerat kasus di Indonesia berasal dari Nigeria, Afrika Selatan dan Bangladesh.

"Kami amankan juga beberapa WNA dari negara Nigeria, Afrika Selatan, dan juga Bangladesh," jelas Herman.

Namun demikian kata Herman para WNA yang diamankan tersebut didominasi tersandung kasus pelanggaran ke Imigrasian seperti over stay.

Menurut Herman, kebanyakan dari mereka lebih memilih tinggal di apartemen dekat dengan permukiman warga.

DPT Pemilu 2019 Kabupaten Bekasi Steril dari WNA

Gandeng Linmas Amankan Pilpres, Pemkot Tangerang Soroti Kecamatan Jatiuwung

Beragam Terobosan Kantor Imigrasi Jakarta Barat untuk Prioritaskan Penyandang Disabilitas

Bukan menyewa rumah mewah dengan kalangan terbatas, sebab, profesi mereka jika tidak terlibat kejahatan media sosial, lalu selebihnya merupakan pemain bola antarkampung.

"Selama berada di Kota Tangerang, mereka berupaya mengelabui petugas. WNA yang kami tangkap ini biasanya berupura-pura mengikuti pertandingan sepakbola dibayar Rp 1-2 juta sekali main," terang Herman.

Herman mengaku akan memperketat aturan dan pengawasan terhadap WNA yang melanggar aturan baik secara administrasi atau pun tindak pidana di Kota Tangerang.

Tak terkecuali WNA yang tinggal di perumahan mewah atau bekerja di bawah payung perusahaan raksasa di Kota Tangerang.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved