Utang Indonesia Naik 3 Tahun Terakhir Hingga Rp 4 Ribu Triliun, Jokowi Ungkap Fakta Ini
Utang pemerintah melonjak dari Rp 3.165,13 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 3.466,96 triliun di tahun 2017.
Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Kurniawati Hasjanah
"Pengelolaan fiskal juga baik dan hati-hati, defisit di anggaran semakin mengecil tiap tahun. Itu menunjukkan pengelolaan fiskal kita hati-hati," tuturnya.
Dirinya turut membongkar utang yang diemban Indonesia saat dirinya dilantik menjadi Presiden ke-7.
Ia ungkapkan, sejak dirinya dilantik, Indonesia memiliki utang sebesar Rp 2.700 triliun.
Nilai itu kemudian terus membengkak akibat adanya bunga.

"Saya dilantik utangnya sudah Rp 2.700 triliun. Bunganya setiap tahun Rp 250 triliun. Dihitung aja angkanya," imbuhnya.
Dibalik utang yang menumpuk itu, Jokowi menegaskan yang terpenting dari utang itu digunakan untuk hal produktif.
Baca: Ungkap Blak-Blakan Syarat Cawapres Jokowi, Jusuf Kalla: Kualitas Siap Jadi Presiden Kalo Dibutuhkan
"Yang memberikan revenue, income, manfaatnya harus ada. Jangan dipakai dalam hal konsumtif seperti subsidi BBM," lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi justru mempertanyakan kritik atas utang pemerintah.

Menurutnya, kritik tersebut lebih banyak muatan politisnya.
“Kalau yang satu ahli ekonomi makro, yang satu politikus (berdebat utang-red). Ya, nggak nyambung," tuturnya.
Jokowi juga menyatakan dirinya lebih percaya kepada ahli ekonomi makro.
Baca: Usulkan Anggota DPR Diberi Tunjangan Perumahan, Mendagri: Rumahnya Ada Kok Diganti uang
"Kalau saya lebih percaya kepada yang mengerti masalah ekonomi makro, ya Bu Sri Mulyani. Track record-nya jelas,” tegasnya.
Najwa juga menjelaskan kalau terdapat beragam kritikan tersebut didasarkan laporan yang komprehensif, seperti laporan Indef.
"Silahkan saja adu argumen dengan Menteri Keuangan yang memiliki angka-angka. Tapi sekali lagi, saya sampaikan kepercayaan Internasional semakin baik dengan adanya angka-angka rating. Saya rasa hal itu harus kita lihat," tutupnya.