HUT ke 73 TNI
Soroti Citra TNI dari Masa ke Masa, Mahfud MD Beberkan Perubahan Zaman Orba hingga Kini
Memperingati HUT ke-73 TNI, Mahfud MD menyoroti perubahan citra TNI dari zaman Orba hingga saat ini.
Penulis: Rr Dewi Kartika H | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Pantauan TribunJakarta.com pernyataan Mahfud MD itu dicuit melalui media sosial Twitter.
Cuitan tersebut kini sudah disukai lebih dari ribuaan pengguna Twitter.
Begini Perubahan Nama ABRI ke TNI dan Sejarah Seragam Loreng Militer
5 Oktober 2018 merupakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) atau Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sebelum nama TNI populer saat ini, dulunya prajurit tentara lebih akrab disebut ABRI.
Lalu, ternyata ada sejarahnya dan alasan dalam perubahan nama ini.
Dikutip dari Tribunstyle.com, awalnya, pada masa Demokrasi Terpimpin hingga masa Orde Baru, TNI pernah digabungkan dengan POLRI dan disebut ABRI.
Melansir dari Warta Kota, sejak bergulirnya reformasi pemerintahan 1998, terjadi banyak perubahan yang cukup besar.
Ditandai dengan jatuhnya pemerintahan orde baru yang kemudian digantikan oleh pemerintahan reformasi di bawah pimpinan presiden B.J Habibie di tengah maraknya berbagai tuntutan masyarakat dalam penuntasan reformasi.
Lalu, muncul pada tuntutan agar Polri dipisahkan dari ABRI dengan harapan Polri menjadi lembaga yang professional dan mandiri, jauh dari intervensi pihak lain dalam penegakan hukum.
Sejak 5 Oktober 1998, muncul perdebatan di sekitar presiden yang menginginkan pemisahan Polri dan ABRI.
Sementara dalam tubuh Polri sendiri sudah banyak bermunculan aspirasi-aspirasi yang serupa.
Isyarat tersebut kemudian direalisasikan oleh Presiden B.J Habibie melalui instruksi Presiden No.2 tahun 1999 yang menyatakan bahwa Polri dipisahkan dari ABRI.
Upacara pemisahan Polri dari ABRI dilakukan pada tanggal 1 april 1999 di lapangan upacara Mabes ABRI di Cilangkap, Jakarta Timur.
Terkait dengan TNI dan ABRI, Tentara tak luput dari seragam bermotif loreng dan warna hijau.