HUT ke 73 TNI
Soroti Citra TNI dari Masa ke Masa, Mahfud MD Beberkan Perubahan Zaman Orba hingga Kini
Memperingati HUT ke-73 TNI, Mahfud MD menyoroti perubahan citra TNI dari zaman Orba hingga saat ini.
Penulis: Rr Dewi Kartika H | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Bahkan, motif loreng dan warna hijau digunakan tentara di seluruh dunia.
Melansir dari Intisari Online, motif loreng dan warna hijau ini tidak dipilih sembarangan.
Kendati demikian, motif loreng dan warna hijau memiliki latar belakang oleh upaya kamuflase atau penyamaran.
Tak hanya untuk keperluan di medan perang, manusia telah memiliki kesadaran kamuflase untuk hal-hal lainnya.
Mengutip Caitlin Hu dalam artikelnya The Art and Science of Military Camouflage, pemburu asli Amerika mengenakan kulit kerbau untuk mendekati mangsa mereka.
Sementara pemburu Irlandia menutupi diri mereka dengan potongan-potongan sikat dan ranting untuk menyatu dengan pepohonan.
Pada masa Julius Caesar, kapal-kapal disamarkan dengan lilin biru laut, dan selama Perang Sipil AS mereka dicat kabut abu-abu.
Dengan cara pikir yang sama, seragam tentara pun dirancang agar dapat melakukan kamuflase.
Hal tersebut tentunya agar tentara tak terdeteksi oleh musuh serta dapat mengurangi risiko terkena sasaran tembakan saat medan perang.
Sejarah PETA
Kemarin, Rabu, 3 Oktober 2018, tepatnya 75 tahun yang lalu pada 3 Oktober 1942, Pembela Tanah Air (PETA) didirikan.
Sejarah lahirnya TNI turut mewarnai perjalanan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
PETA merupakan tentara sukarelawan (kesatuan militer) buatan Jepang di Indonesia yang bertugas membantu tentara Jepang dalam peperangan.
PETA memiliki peran penting dalam menjaga kemerdekaan Indonesia dan juga perang kemerdekaan.
Ketika Belanda dan Sekutu mencoba datang kembali ke Indonesia, tentara PETA mempunyai peran penting.
PETA merupakan satu di antara bagian dari cikal bakal berdirinya TNI.
Melansir dari Kompas.com, PETA berdiri atas dasar inisiatif masyarakat Indonesia, yaitu R Gatot Mangkupraja yang merupakan seorang pimpinan nasionalis.
Gatot menuliskan surat kepada Gunseikan di Jawa untuk membentuk tentara. Surat itu ditulis pada September 1943 yang dikuti dari buku Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi pada tahun 2007.
Namun, terdapat pendapat lain yang menjelaskan bahwa terbentuknya PETA berasal dari golongan ulama yang menginginkan kelompok untuk mempertahankan Pulau Jawa.
Hasilnya, bendera PETA terdapat lambang matahari terbit dan lambang bulan sabit serta bintang. Pemuda Indonesia kemudian bergabung dalam satuan ini.
Markasnya berada di Bogor, Jawa Barat. Peran utama dalam pembentukannya tertuju pada membela Indonesia dari serangan blok Sekutu.
Mereka dilatih dan diajari tentang pendidikan militer oleh tentara Jepang.
Sampai pada akhirnya, terbentuk 66 batalion di Jawa, tiga batalion di Bali dan sekitar 20.000 personel di Sumatera untuk mengamankan daerahnya.