Demi Anak, Ujang Bertahan Jual dan Sol Sepatu di Kawasan Pasar Koja
Pengahasilan Ujang setiap hari dari menjual dan mensol sepatu hanya cukup untuk makan dan membiayai dua anak yang masih ditanggungnya.
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Afriyani Garnis
TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Ahmad Bin Soma (57) satu di antara pedagang dan penerima jasa sol sepatu di Pasar Permai, Koja, Jakarta Utara.
Lebih dari 45 tahun mencari uang melalui sepatu kulit, Ujang sebenarnya ingin pensiun.
"Saya sebenarnya ingin pensiun," kata pria yang akrab disapa Ujang kepada TribunJakarta.com pada Minggu (26/11/2018) malam.
Bukan hanya karena faktor usia, Ujang sebenarnya sudah ingin membuka pabrik rumahan untuk produksi sepatu kulitnya.
"Saya masih nanggung anak sekolah dua orang, kalau ada modal saya lebih milih buka pabrik kecil-kecilan dirumah," ujarnya.
Setiap hari Ujang menempuh sekira dua jam perjalanan dari Bantar Gebang menuju Tanjung Priok menggunakan motor untuk berdagang.
Awalnya ia tinggal di Tanjung Priok, namun karena satu dan lain hal pindah ke Bantar Gebang, Bekasi bersama keluarganya.
"Saya tinggal di Bantar Gebang sekarang, sebelumnya di sini," kata dia.
Pengahasilan Ujang setiap hari hanya cukup untuk makan dan membiayai dua anak yang masih ditanggungnya.
Ujang mengaku tidak ingin mencoba pekerjaan lain selain bergelut dengan sepatu kulit.
Sejak kecil ia sudah bekerja dan mencari uang melalui sepatu kulit, sehingga tidak tertarik pada pekerjaan lain.
"Sudah dari dulu begini, jadi enak begini saja, sudah tahu dari dulu," katanya.
Ujang sudah menggeluti usahanya sejak masih berusia sangat muda. Sekira tahun 1972 dirinya sudah mulai berkeliling di Tanjung Priok untuk menawarkan jasa sol sepatu.
Hingga akhirnya ketika dirasa mampu, ia memilih lapak di sekitar kawasan Pasar Permai, Koja, Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso tidak jauh dari persimpanagan Mambo sebagai lapaknya berjualan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ujang-sepatu.jpg)