Demi Anak, Ujang Bertahan Jual dan Sol Sepatu di Kawasan Pasar Koja
Pengahasilan Ujang setiap hari dari menjual dan mensol sepatu hanya cukup untuk makan dan membiayai dua anak yang masih ditanggungnya.
Ujang mengatakan, keahliannya ia dapatkan dari kedua orangtuanya yang juga berprofesi sama seperti dirinya.
"Saya awalnya keliling, baru buka lapak di sini. Belajarnya ya dari orangtua, mereka dulu buka lapak di depan Kejaksaan dekat Terminal Tanjung Priok," papar Ujang.
Meski sepatu kulit dan sol merupakan mata pencahariannya, Ujang tidak ingin anak-anaknya meneruskan pekerjaannya tersebut.
"Orangtua saya begini, saya begini, kalau anak saya begini saya sedih, saya ngak mau anak saya begini juga, harus lebih baik," ucap Ujang sembari menyeka air matanya.
Pasalnya, sudah banyak sekali pengalaman pahit yang dialami Ujang, mulai dari dimarahi hingga merugi karena sol sepatu tak kunjung dijemput pemiliknya.
"Saya pernah hampir dipukuli karena yang punya sepatu ngak terima sama pekerjaan saya, padahal saya niatnya hanya memperbaiki tapi dia tidak mau, alasannya karena tidak suka, dia datang minta ganti rugi segala macamnya sampai tidak mau bayar jasa saya, dan paling sering rugi karena sepatunya ngak diambil-ambil, " ceritanya.
Ujang berdagang sekira pukul 10.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB setiap hari di Jalan Yos Sudarso kawasan trotoar Pasar Permai, Jakarta Utara.
Dirinya menjual sepatu baru dan second, di antaranya produksi Ujang sendiri.
Sepatu yang dijual Ujang berkisar Rp 70 ribu sampai 150 ribu bergantung kondisi sepatu yang dibeli.
Untuk jasa sol sepatu Ujang mematok garga Rp 20 ribu, sedangkan untuk mengganti tapak sepatu Ujang tawarkan Rp 60 - 80 ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ujang-sepatu.jpg)