Bandara Soekarno-Hatta Sepi, Pendapatan Sopir Taksi Turun 50 Persen
Sudaim merasakan hal yang tak jauh berbeda dan mengaku sudah empat jam ia menunggu di lobi Terminal 1 dan belum satu pun penumpang yang ia angkut.
Penulis: Ega Alfreda | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda
TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Sepinya penumpang di Bandara Soekarno-Hatta terutama di Terminal 1 membuat sejumlah sopir taksi dan Damri meradang.
Pasalnya, satu bulan terakhir ini mereka sepi penumpang terkena dampak dari tingginya harga tiket pesawat dan diberlakukannya aturan bagasi berbayar.
Seperti yang dialami oleh Yanto seorang sopir taksi Eagle yang terasa terpangkas pendapatannya setelah diberlakukannya bagasi berbayar dan harga tiket yang mahal.
"Jelas terasa banget. Ya sejak tiket pesawat mahal dan ada bayar bagasi. Penumpang menghilang," keluh Yanto di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (8/2/2019).
Menurutnya, pendapatannya turun hingga 50 persen pada satu bulan belakang ini dan terpaksa mengurangi intensitasnya di mencari penumpang di Bandara Soekarno-Hatta.
"Biasanya kan keluar masuk itu bolak balik bisa lima kali. Kalau kebanyakan diem di sini gak kekejae setoran. Makanya cuma dua kali bolak balij keluar masuk aja," beber Yanto.
Pengemudi taksi lainnya, Sudaim merasakan hal yang tak jauh berbeda dan mengaku sudah empat jam ia menunggu di lobi Terminal 1 dan belum satu pun penumpang yang ia angkut.
"Kemarin datang jam lima sore, dapet jam sembilan sore. Ini dari pagi baru satu rit (sekali angkut)," tuturnya.
Pada sebelumnya, ia mengaku ketika matahari hendak terbenam, Sudaim bisa tiga kali bolak-balik bandara dan mengangkut penumpang.
Namun, saat ini ia hanya bisa menungu penumpang keduanya datang.
"Sejak awal Februari lah mulai paceklik kayak gini," sambung Sudaim.
Menurut dia, penurunan penumpang hanya terasa di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, sementara Terminal 2 dan 3 belum terasa berdampak.
Namun, pengemudi taksi sulit untuk mendapatkan penumpang di Terminal 2 dan 3 sebab, taksi harus terus memutarkan kendaraannya.
"Kalau di sana beda gak boleh 'ngetem' kayak di sini (Terminal 1) makanya serba salah juga," keluh Sudaim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/antrean-taksi-di-terminal-1.jpg)