Cinta Aris Sugianto Ditolak Guru Honorer Korban Mutilasi? Ini Ungkapannya di Facebook
Cinta tak sampai, mungkin itu yang ada di benak Aris Sugianto sehingga menghabisi nyawa guru honorer Budi Hartanto sampai memutilasinya.
Penulis: Y Gustaman | Editor: Y Gustaman
Pada akun yang sama juga terlihat Aris memakai kaus hitam bertuliskan, "Pejuang Kapusan," kaus ini juga yang dipakainya saat ditangkap polisi di dalam bus Puspa Jaya.

Ada juga unggahan video saat ia memberi makan ternak lele dan kambing, termasuk video saat dibesuk sejumlah rekannya saat dirawat inap di salah satu rumah sakit.
Tak ada kontak pertemanan Aris Sugianto dengan Budi Hartanto, korbannya yang dibunuh dan dimutilasi.
Beberapa unggahan statusnya, misalnya pada 27 Oktober 2019>
"Pengecut itu selalu memanfaatkan temannya untuk membantu. One by one itu baru gentlemen. Dasar kau pengecut..."
Status lainnya juga sempat diunggah Aris Sugianto yang beprofesi sebagai penjual nasi goreng itu.
"Loro...atiku loro. Seng ta tresno ora rumomgso (Sakit hatiku sakit yang ku cinta enggak merasa)."
Jejak koper dan pakaian korban
Terungkap teka-teki koper untuk membuang jasad Budi Hartanto dan pakaiannya yang hilang karena saat ditemukan korban telanjang.
Aris Sugianto sempat pulang ke rumah ibunya, lalu meminta maaf.
"Saya baru pulang salat Subuh di masjid. Dia tiba-tiba langsung minta maaf ke saya," cerita N setelah diperiksa di Polres Blitar Kota, Jumat (12/4/2019), seperti dilansir TribunJatim.com.
Di hadapan N, Aris meminta maaf karena telah menjual kopernya seharga Rp 200 ribu untuk modalnya berjualan nasi goreng.
Memang benar, Aris membuka usaha nasi goreng di Desa Sambi, Ringinrejo, Kabupaten Kediri, tak lama membunuh Budi Hartanto.

"Bu, saya minta maaf kopernya saya jual laku Rp 200 ribu. Saya buat tambahan modal," ujar Aris menggunakan bahasa Jawa seperti ditirukan N.
Sebelum tubuhnya dibuang di Blitar, ponsel Budi Hartanto masih terdeteksi di Kediri sampai pukul 04.00 WIB.