Bikin Video dengan Lantang Sebut 22 Mei HUT PKI, Iwan Adi Sucipto Menyesal dan Minta Maaf

Hal itulah yang menyebabkan ucapannya itu dikecam di dunia maya karena dianggap mengadudombakan Polri dan TNI.

Bikin Video dengan Lantang Sebut 22 Mei HUT PKI, Iwan Adi Sucipto Menyesal dan Minta Maaf
Kolase Tribun Jabar (Tribunnews/Herudin dan Facebook)
Iwan Adi Sucipto, pria dalam video viral yang berani tantang Kapolri Tito Karnavian. Jejak digitalnya diburu netizen di media sosial. 

Namun, semakin lama ia berbicara emosi kemarahan terpampang di wajahnya.

Matanya melotot ketika berbicara soal mengenai Kapolri yang memerintahkan menembak mati perusuh.

Ia memprovokasi penonton videonya agar tidak tunduk.

"Jangan takut dengan ancaman Kapolri dengan ditembak di tempat," ucapnya.

Padahal berita polisi menembak mati perusuh adalah hoaks dan sudah diklarifikasi oleh pihak kepolisian.

Berita hoaks tersebut berasal dari sebuah blog bukan media massa.

Dalam ucapannya, pria itu membenturkan institusi TNI dan Polri.

Pria yang diduga IAS itu mengaku keluarganya berasal dari kalangan TNI.

"Dan aku yakin seluruh keluarga saya, TNI, siap tatkala ada korban, maka TNI akan tempur dengan Polri," ucapnya lantang.

Tak hanya itu, pria itu juga menyerukan rakyat rela mati demi memperjuangkan paslon yang dibelanya.

Di akhir video, pria itu mengatakan tanggal 22 Mei, hari di mana KPU menyatakan hasil Pemilu 2019 sebagai hari ulang tahun PKI.

Informasi tersebut, ucapnya, didapatkan dari teman-temannya yang menjabat sebagai jenderal.

"Mudah-mudahan kami semuanya teman-teman, jangan tidak percaya, tanggal 22 itu juga ada beberapa informasi ini dari teman-teman saya, jenderal, bahwa ternyata tanggal 22 hari ulang tahun PKI.

Ini merupakan sebuah... Ada surat dari seorang yang pemimpin PKI, dan insyaAllah kita semua semangat dan berjuang sebelum tanggal 22, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjadi Presiden dan Wakil Presiden."

Ia meminta kepada rekan-rekannya agar berdoa dan menangis hingga diberikan keadilan.

"InsyaAllah satu persatu yang sombong, angkuh dan congkak dengan jabatannya, dengan kekayaannya, tumbang kena stroke, tumbang sakit parah, insyaAllah bismillah. Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh," tutupnya.

Iwan Adi Sucipto Mengaku Keluarganya TNI

Beredar kabar Satreskrim Polres Cirebon dan Resmob Ditkrimum Polda Jabar telah menangkap Iwan Adi Sucipto.

Pria tersebut diduga melakukan penyebaran ujaran kebencian yang disebarkan melalui akun Facebook-nya.

Video pria yang diduga Iwan Adi Sucipto telah diposting ulang oleh beberapa akun Facebook, salah satunya adalah Relawan JOMIN.

Dalam video tersebut terlihat seorang pria mengenakan kemeja batik biru bermotif mega mendung.

Ia membuka pembicaraan dengan mengucap salam dengan suara tenang.

"Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh, rekan-rekan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'la, ayo terus kita berjuang, jangan lemah semangat. Karena semakin hari semakin kuat," katanya.

Namun, semakin lama ia berbicara emosi kemarahan terpampang di wajahnya.

Matanya melotot ketika berbicara soal mengenai Kapolri yang memerintahkan menembak mati perusuh.

Ia memprovokasi penonton videonya agar tidak tunduk.

"Jangan takut dengan ancaman Kapolri dengan ditembak di tempat," ucapnya.

Padahal berita polisi menembak mati perusuh adalah hoaks dan sudah diklarifikasi oleh pihak kepolisian.

Dalam ucapannya, Iwan Adi Sucipto membenturkan institusi TNI dan Polri.

Pria yang diduga Iwan Adi Sucipto itu mengaku keluarganya berasal dari kalangan TNI.

"Dan aku yakin seluruh keluarga saya, TNI, siap tatkala ada korban, maka TNI akan tempur dengan Polri," ucapnya lantang.

Tak hanya itu, Iwan Adi Sucipto juga menyerukan rakyat rela mati demi memperjuangkan paslon yang dibelanya.

"InsyaAllah satu persatu yang sombong, angkuh dan congkak dengan jabatannya, dengan kekayaannya, tumbang kena stroke, tumbang sakit parah, insyaAllah bismillah. Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh," tutupnya.

Berdasarkan keterangan yang didapat Tribun Jabar, Iwan Adi Sucipto sudah ditangkap di wilayah Blok Kolem, Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Senin Senin (13/5/2019) pukul 01.00 WIB.

Kronologi Penangkapan

Polisi mendapat informasi terkait video yang dibuat oleh Iwan Adi Sucipto yang berisi ujaran kebencian, Minggu (12/5/2019).

Video tersbeut berdurasi 1 mneit 57 detik yang disebarkan oleh akun Facebook atas nama Iwan Adi Sucipto.

Kemudian, polisi melakukan penyelidikan dan profiling yang membuahkan hasil perkiraan lokasi keberadaan Iwan Adi Sucipto.

Satreskrim Polres Cirebon dan Resmob Dit Krimum Polda Jabar melakukan penangkapan.

Selanjutnya terduga pelaku dibawa ke Polres Cirebon guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Polisi juga mengamankan barang bukti berupa tangkapan layar akun Facebook yang berisikan video tersebut, sebuah video ujaran kebenciandengan durasi 1,57 detik, satu unit ponsel Redmi 6A hitam, dan sebuah simcard.

Iwan dikenakan Pasal 45a ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No 11 2008 tentang ITE dan atau Pasal 14 dan atau Pasal 15 UU RI Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Minta maaf

Pria Pembuat Video Adu Domba TNI Polri Bukan Orang Sembarangan, Akhirnya Minta Maaf dan Menyesal. Iwan AS menjalani pemeriksaan di Mapolres Cirebon
Pria Pembuat Video Adu Domba TNI Polri Bukan Orang Sembarangan, Akhirnya Minta Maaf dan Menyesal. Iwan AS menjalani pemeriksaan di Mapolres Cirebon (ISTIMEWA/FACEBOOK)

Kepolisian Resor Cirebon bersama Tim Resmob Ditreskrimum Polda Jabar menangkap pria berinisial Iwan Adi Sucipto/IAS (49) di rumahnya di Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Senin dini hari (13/5/2019).

Kapolres Cirebon AKBP Suhermanto mengatakan, tim gabungan langsung menangkap IAS yang sedang berada di rumah tanpa perlawanan.

“(Pukul) 01.30 WIB anggota kami bersama tim Resmob Ditreskrimum Polda Jabar telah menangkap seseorang yang telah membuat video dan memviralkan yang bermuatan ujaran kebencian dan provokatif.

Pelaku kami amankan di Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber,” kata Suhermanto.

Pelaku kemudian bersama kerabat dan kuasa hukumnya dibawa ke Mapolres Cirebon.

Suhermanto mengatakan, pihaknya mendalami motivasi IAS membuat dan menyebarkan video yang cenderung mengadu domba TNI dan Polri.

"Tentu saja kami akan melakukan pemeriksan secara intensif, motivasi dan tujuan dari pembuatan video tersebut,” kata Suhermanto.

Video berdurasi 01.57 detik yang berisi rekaman IAS tersebar luas di media sosial.

Video tersebut diposting ulang sejumlah warganet dan menjadi viral.

Berdasarkan data yang didapat polisi, IAS mengunggah video provokatif itu pada Minggu (12/5/2019).

Lalu Senin malam, tim langsung bergerak dan menangkap pelaku.

Suhermanto menilai, konten video tersebut sangat berbahaya lantaran provokatif dan hendak mengadu domba TNI dan Polri.

Selain konten video provokatif, lanjut Suhermanto, pelaku juga diduga menyebarkan berita bohong bahwa pada 22 Mei mendatang adalah hari ulang tahun PKI.

22 Mei adalah pengumuman hasil Pilpres 2019 oleh KPU. 

Informasi terbaru polisi telah menetapkan IAS (49) sebagai tersangka.

Kapolres Cirebon menyampaikan, usai ditangkap pada Senin (13/5/2019) dini hari, polisi langsung melakukan pemeriksaan.

Hingga sekitar pukul 12.00 WIB, tim penyidik sudah memeriksa IAS sekitar enam jam.

“Sejak setelah subuh tadi, hingga saat ini masih dalam pemeriksaan.

Kami akan terus dalami secara intensif, terkait motivasi dan tujuan yang bersangkutan,” kata Suhermanto.

Kepada Kompas.com, Suhermanto menjelaskan tim Mabes Polri serta Polda Jawa Barat sedang dalam perjalanan menuju Cirebon dan dijadwalkan tiba pada Senin malam.

Kata Suhermanto, rencananya kasus tersebut akan dilimpahkan ke Polda Jawa Barat.

“Kami masih menunggu. Nanti kami kabarkan,” katanya.

IAS dibekuk polisi di pondok pesantren tempatnya mengajar, yakni Pondok Pesantren Bumi Darussalam.

Seperti diberitakan sebelumnya, IAS ditangkap di Blok Kolem, Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Minggu (12/5/2019) pukul 01.30 WIB.

Menurut Kapolres Cirebon AKBP Suhermanto, IAS tengah bersama keluarga, sekaligus kuasa hukumnya.

Kini, IAS pun dijadikan tersangka kasus ujaran kebencian akibat video viral provokasi soal Polri dan TNI.

"Dalam video itu sangat berbahaya karena mengandung unsur provokasi, mengadu adu domba antara TNI dan Polri. Ada juga berita bohongnya yang menyebutkan 22 Mei adalah hari ulang tahun PKI yang itu tidak benar," ujar AKBP Suhermanto.

Selain itu, ia menyebut, video tersebut berkaitan dengan Pemilu, yakni pengumuman resmi KPU pada 22 Mei 2019.

"Ini tentu ada kaitannya dengan pemilu karena dia mengajak masyarakat ramai-ramai datang ke Jakarta tanggal 22 Mei," ujarnya.

Akibat kasus ini, IAS dijerat Pasal 45 A Ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 Undang-undang RI Nomor 19 tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. (TribunJabar/Kompas.com)

Penulis: wahyu tribun jakarta
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved