Ditinggal Suami dan Dijauhi Anak, Petugas PPSU Ancol Ini Hidup Sebatang Kara
Ia berharap anak-anaknya itu bisa meluangkan waktu mereka untuk menyambangi Rani tak hanya sekali, namun berkali-kali
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Muhammad Zulfikar
"Suami pergi sama perempuan lain. Anak dua, di Sumur Batu tapi nggak inget. Nggak pernah nengokin, kalo saya kangen ya saya yang nyamperin. Ketemu kalo nyamperin," kata Rani.
• Protes Unit Sekolah Baru, Wali Kota Bekasi: Sekolah Swasta Harus Tingkatkan Kualitas
• 27 KK Korban Kebakaran Cipinang Besar Selatan Lolos Verifikasi Untuk Tempati Rusun Jatinegara Kaum
"Harapan ibu kepingin kumpul sama anak saya. Kan namanya udah tua, takutnya ada apa-apa. Kalo ada anak-anak kan enak," imbuh Rani dengan suara bergetar disambut tetesan air mata yang tak bisa ditahannya.
Rani tinggal di sebuah kontrakan berukuran sekitar 3x2 meter di pinggir rel Kampung Bandan, Jalan Lodan Raya, Ancol, Jakarta Utara.
Setiap harinya, ia mesti menempuh jarak sekitar 1 kilometer menuju ke lokasinya menyapu jalan.
Meski ada kekurangan pada tubuhnya usai ditabrak motor, Rani tetap setia bekerja sebagai petugas PPSU demi membersihkan jalanan dari sampah apapun, termasuk daun kering yang selalu berguguran.
Rani ingin membuktikan bahwa meski daun-daun terus berguguran, tekad dan kekuatannya untuk membersihkan jalanan belum gugur.
Pembuktian itu juga dilandasi hasrat bertahan hidup di tengah kehidupan yang sebatang kara.
"Kalo nggak kerja gimana, yang mau ngasih makan siapa, apalagi badan masih kuat," kata Rani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/petugas-ppsu-kelurahan-ancol-rani-51-saat-ditemui-di-kontrakannya.jpg)