Mayat Mahasiswa Timor Leste Berselimut di Jurang Cemorosewu: Korban Penculikan, Pengakuan Saksi Mata
Penemuan mayat terbungkus selimut di Jurang Cemorosewu menggegerkan warga sekitar. Ternyata, mahasiswa asal Timor Leste yang dilaporkan diculik.
Penulis: Ferdinand Waskita | Editor: Muhammad Zulfikar
"Kita peroleh informasi-informasi yang mengarah ke tersangka atau pelaku dan alhamdulilah kita sudah punya data-data orangnya. Tinggal tunggu waktu saja," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo, Kamis (18/7/2019).
Adapun kasus ini bermula ketika Sentra Pelayanan Kopolisian Terpadu (SPKT) Polda DIY menerima laporan orang hilang bernama Joao Bosco Baptista (21) pada 3 Juli 2019.
Laporan orang hilang tersebut kemudian berkembang menjadi laporan penculikan.
Atas laporan tersebut, pihak kepolisian memeriksa saksi dan juga mencari korban dari jejak digital.
Hingga beberapa hari kemudian Polda DIY mendapat informasi dari Polres Magetan bahwa di sana ada laporan penemuan mayat tanpa identitas di lereng jurang Cemorosewo pada 12 Juli 2019.
Oleh kepolisian Magetan, jenazah di bawa ke rumah sakit di sana.
Namun karena rumah sakit tersebut tidak memadai untuk melakukan identifikasi, maka jenazah dirujuk ke RS Bhayangkara Nganjuk.
Dari informasi itu, Polda DIY mengirimkan tim inafis untuk melakukan proses identifikasi awal.
Proses identifikasi pun dilanjutkan di RS Bhayangkara Polda DIY.
"Setelah dilakukan pemeriksaan identifikasi yang panjang, kita ambil kesimpulan bahwa benar mayat mr x adalah Joao Bosco Baptista Colo. Kita juga minta dilakukan tes ke labfor Semarang untuk mengetahui secara detil penyebab kematiannya," paparnya.

"Sekarang kita akan meningkat lagi mencari dan menemukan tersangka yang diduga pelaku penganiaya yang menyebabkan matinya orang," imbuhnya.
Sementara itu, Dokter Forensik RS Bhayangkara Polda DIY, Kompol Aji Kadarmo menjabarkan, proses identifikasi dimulai di RS Nganjuk dengan melakukan pemeriksaan sidik jari.
Di sana petugas membandingkan sidik jari yang didapat dengan paspor yang dimiliki korban.
"Kemudian jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Polda DIY, kami lakukan pemeriksaan ulang dan lebih melakukan pemeriksaan secara DVI (Disaster Victim Identification) untuk menguatkan idenfitikasinya," ungkapnya.
Di sini, dokter memeriksa melakukan pemeriksaan identifikasi primer berupa sidik jari, rekaman gigi dan DNA.