Festival Condet dan Harapan Pegiat Budaya Betawi

Festival Condet 2019 yang pada akhir pekan kemarin berlangsung di Jalan Raya Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur sukses digelar.

Tayang:
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Ketua II bagian organisasi Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Rohman (30) di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Festival Condet 2019 yang pada akhir pekan kemarin atau tanggal 27-28 Juli berlangsung di Jalan Raya Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur sukses digelar.

Keberadaan 400 stand yang menjual berbagai macam jenis produk khas Betawi dan tiga panggung hiburan berhasil membuat betah warga.

Ketua II bagian organisasi Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Rohman (30) menilai Festival Condet jadi cara melestarikan budaya Betawi di era sekarang.

"Dari mana datangnya cinta, kalau bukan dari mata turun ke hati. Kalau bukan untuk menjaga budaya, kalau bukan kita siapa lagi, istilahnya begitu," kata Rohman di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019).

Dia mencontohkan satu panggung yang diperuntukkan khusus bagi puluhan perguruan silat menampilkan kebolehan setiap anak didik.

Rohman berharap festival yang berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB ini dapat meningkatkan marwah budaya Betawi.

"Budaya Betawi, baik secara kuliner, atau kebudayaan bisa mengangkat marwah (kehormatan) tradisi nusantara Indonesia," ujarnya.

Perihal konsep dan waktu pelaksanaan Festival Condet, dia mengaku mempercayakan hal itu sepenuhnya kepada panitia penyelenggara.

Menurut Rohman yang terpenting para pegiat budaya Betawi di masing-masing bidang mendapat tempat dalam Festival Condet.

"Bagaimana penyelenggara, kita ikut saja. Yang saya lihat sampai sekarang acaranya bagus, pengunjung banyak," tuturnya.

Cara Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet Mendidik Anak Agar Disiplin Latihan

Meski mendidik anak bukan hal mudah, Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet memilih menerima anak yang sudah berusia 4 tahun jadi muridnya.

Guru besar Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Kasmat Pulhulawa (68) mengatakan perguruannya dengan senang hati menerima anak yang berminat belajar.

Pria yang karib disapa Babe Yadi ini pun memiliki trik khusus agar 12 anak didiknya yang masih berusia anak mau menjalani latihan 3 kali dalam sepekan.

"Kita kasih kebebasan pas istirahat. Pas istirahat mau jajan sama bercanda ya silakan, mau lari-larian juga enggak apa. Tapi ketika latihan serius lagi," kata Babe Yadi di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019).

Guru besar Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet Babe Yadi (baju hijau) saat menunjukkan kemampuannya di Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019).
Guru besar Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet Babe Yadi (baju hijau) saat menunjukkan kemampuannya di Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Pria yang belajar silat sedari umur 10 tahun ini mengaku mahfum dengan watak anak yang gemar bermain seakan tak kenal lelah.

Di tempat latihan, yakni halaman RPTRA Muara Condet Babe Yadi mengakui waktu istirahat jadi waktu yang dinantikan anak didiknya yang masih berusia anak.

"Mungkin pas awal latihan agak malas, tapi pas istirahat dia justru semangat lari-larian. Nanti setelah istirahat semangat latihan lagi, namanya anak-anak kan. Yang penting dia tahu kapan harus latihan dan bercanda," ujarnya.

Kala menggembleng murid yang masih berusia anak Babe Yadi menyebut dia menekankan pentingnya fokus dan disiplin dalam berlatih.

Ketua II bagian organisasi Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Rohman (30) pun tak melarang anak didiknya bermain ketika jam istirahat.

"Kalau dimarahin sih enggak, kasihan anaknya juga. Ada kalanya kita tegas, ada kalanya kita sambil bercanda buat hiburan mereka. Biar ada sisi menarik buat mereka," tutur Rohman.

Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet sendiri menggelar latihan sejak pukul 19.30 WIB hingga 22.00 WIB 3 kali dalam satu pekan.

Setiap murid diwajibkan mengikuti latihan minimal satu kali pertemuan sebagai bukti dia serius berlatih dan disiplin terhadap aturan yang ditetapkan.

"Sekarang umur paling kecil 3 tahun. Harusnya paling kecil memang 4 tahun, tapi yang 3 tahun ini dikasih lihat pas latihan dulu, biar anaknya suka," lanjut dia.

Guna meningkatkan fokus anak ketika berlatih, Rohman mengatakan malam Kamis diperuntukkan khusus untuk latihan murid perguruan yang masih berusia anak.

Pasalnya, ketika latihan bersama orang dewasa anak-anak terkadang hilang fokus karena kagum melihat kepiawaian jurus-jurus yang sudah dikuasai seniornya.

"Dibikin khusus biar pas latihan fokus. Karena kalau latihan dicampur dengan yang dewasa kadang anak tertarik melihat orang dewasa latihan. Jadi dia malah kagum melihat yang dewasa pas latihan," ujar Rohman.

Di perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet sendiri terdapat lima tingkatan, tingkat satu mengenakan sabuk hitam.

Tingkat dua sabuk coklat, tingkat tiga sabuk hijau, tingkat empat sabuk merah, dan tingkat lima ditandai dengan sabuk putih,

"Tingkat satu butuh enam bulan, tingkat dua enam bulan, tingkat tiga enam bulan, tingkat empat juga enam bulan. Untuk tingkat lima waktunya enggak dibatasinitu, terakhir ketika dapat ijazah dari guru kita," ujarnya.

Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Bela Diri yang Jurusnya Meniru Gerakan Wudhu dan Salat

Guru besar Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Babe Yadi di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019). 
Guru besar Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Babe Yadi di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019).  (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet merupakan satu dari puluhan perguruan yang mengirimkan anak didiknya agar tampil dalam Festival Condet 2019.

Guru besar Perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet, Kasmat Pulhulawa (68) mengatakan silat ini berawal dari pengembangan gerakan orang mengambil wudhu di sumur.

Bandul merupakan bagian yang berfungsi jadi pemberat ketika menimba, dulunya istilah bandul selalu disandingkan dengan senggot yang merupakan alat timba dari bambu.

"Kenapa disebut bandul potong, aslinya nama permainan (bela diri) ini bandul senggot. Karena sejarahnya sumur dengan timba, dan bandul. Bandulan sumur, jadi ada bambu, tiang dua," kata pria yang karib disapa Babe Yadi ini di Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019).

Di sela kesibukannya menyiapkan anak didiknya tampil, Babe Yadi menuturkan silat Main Pukul Bandul Potong sejatinya sudah ada sebelum Indonesia dijajah Belanda.

Bila melihat sejarah, menurutnya silat merupakan hasil pengembangan sejak umat Islam mulai menunaikan ibadah salat lima waktu.

"Bela diri ini asli sejak orang Islam diajarkan ambil air wudu. Disebutnya silat saya ini silat wudu, silat wudu itu harus menimba air dari sumur, ya itu sejarahnya," ujarnya.

Lantaran merupakan pengembangan sejak mengambil wudu hingga salat, Babe Yadi menyebut Silat Main Pukul Bandul Potong sebenarnya tak berasal dari Condet.

Penambahan kata Condet karena sesepuh Condet lah mengembangkan gerakan-gerakan dalam wudu dan salat hingga jadi seni bela diri.

"Sebenarnya bukan asli Condet, Jawa Barat, atau asli Indonesia. Dibilang silat Condet karena orang Condet yang belajar silatnya. Jadi sejak Islam mengajarkan ambil wudu," tuturnya.

Bila ditotal, Babe Yadi mengatakan ada 120 gerakan dari saat mengambil wudu hingga Tahiyat akhir dalam salat yang dikembangkan jadi 82 jurus.

Kini, perguruan Silat Main Pukul Bandul Potong Condet sudah memiliki lebih dari 60 anggota dengan usia murid paling muda 4 tahun.

"Jadi gerakan pas ambil wudhu, gerakan salat bisa jadi gerakan silat, jadi semua gerakan salat," kata Babe Yadi.

Hari Terakhir, Warga Padati Festival Condet

Festival Condet 2019 yang digelar sejak Sabtu (27/7/2019) di Jalan Raya Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur hari ini memasuki puncaknya.

Sejak pagi warga berbondong-bondong datang ke festival yang dibuka sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB guna menikmati hiburan sembari berbelanja.

Joko (43) mengaku sengaja memboyong istri dan kedua buah hatinya menikmati hari libur karena letak Festival Condet tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Gedong, Pasar Rebo.

"Mumpung libur kan, jadi bisa ajak keluarga jalan-jalan ke sini. Banyak hiburan yang bisa dilihat juga, kayak silat. Siapa tahu anak saya tertarik mau belajar silat," kata Joko di Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2019).

Meski panas matahari menyengat sedari tiba di lokasi, dia menyebut keluarganya dapat menikmati gelaran Festival Condet.

Keberadaan 400 stand yang menjual berbagai barang dan sejumlah pedagang kaki lima ampuh memikat langkah untuk terus berjalan.

"Kalau anak sih biasa ya, beli mainan sama jajanan. Istri juga belanja pakaian karena harga barang yang dijual lebih murah, jadi tertarik buat beli," ujarnya.

Kasmat Pulhulawa (68), satu praktisi Silat yang menemani anak didiknya tampil di panggung Festival Condet pun memuji gelaran ini.

Pria yang karib disapa Babe Yadi ini berharap Festival Condet jadi ajang untuk mengenalkan budaya Betawi ke khalayak luas.

"Hari ini warga yang datang semakin ramai, habis Salat Zuhur ini dari perguruan Silat lain juga akan tampil. Perwakilan anak-anak didik masing-masing perguruan," tutur Yadi.

Ramalan Zodiak Kesehatan Hari Ini, Senin 29 Juli 2019: Libra Setres, Sagitarius Sensitif, Virgo Fit

Ingin Bakar Diri Berujung Gantung Diri, Pria di Bekasi Depresi Usai Ditinggal Nikah Sang Istri

Catat! Daftar Lokasi Pelayanan SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini, Senin (29/7/2019)

Pantauan TribunJakarta.com di lokasi, stand sajian kuliner dan produk-produk unggulan Betawi berjejer di sepanjang Jalan Raya Condet.

Di antaranya Kerak Telor, Dodol Betawi, Bir Pletok, pun dengan busana khas Betawi seperti Pangsi dan Batik Condet.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved