Pencegahan Ebola, Angkasa Pura Perketat Pengawasan Penumpang dari Luar Negeri
Upaya pencegahan tersebut dilakukan Angkasa Pura II bersama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
Penulis: Ega Alfreda | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda
TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - PT Angkasa Pura II melakukan pencegahaan penyebaran virus Ebola di Indonesia yang melalui 16 bandara di Indonesia yang dikelolanya.
Upaya pencegahan tersebut dilakukan Angkasa Pura II bersama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
Ph. SVP of Corporate Secretary AP II Achmad Rifai mengatakan bandara merupakan pintu masuk utama Indonesia sehingga berperan cukup vital dalam menghalau masuknya virus tersebut ke dalam negeri.
"Angkasa Pura II dan KKP yang berada di bawah Kementerian Kesehatan bekerja sama dalam menghalau virus Ebola sejak di bandara. Kami berharap bandara dapat berperan maksimal dalam upaya pencegahan ini," ujar Ahmad Rifai saat dihubungi, Rabu (7/8/2019).
Menurutnya, Bandara Soekarno-Hatta sebagai bandar udara terbesar dan tersibuk di Indonesia rentan dimasuki Ebola.
Terutama penerbangan dari luar negeri menuju Indonesia.
Kepala KKP Kelas I Soekarno-Hatta Anas Maruf mengatakan pemeriksaan salah satunya dilakukan dengan alat thermal scanner di terminal kedatangan.
"Seluruh penumpang rute internasional dan kru pesawat akan dideteksi menggunakan thermal scanner sebelum masuk ke Indonesia. Apabila terdeteksi adanya penderita, yang salah satu indikasinya adalah demam, maka langsung diarahkan ke klinik," jelas Anas.
Di samping screening melalui thermal scanner, KKP juga melakukan surveillance syndrome guna mendeteksi ada atau tidaknya penumpang pesawat yang menderita Ebola.
KKP juga mewajibkan setiap pesawat yang tiba dari luar negeri untuk menyerahkan dokumen General Declaration.
Diantaranya seperti menjelaskan jumlah penumpang, ada atau tidaknya penumpang sakit, dan sebagainya.
"Jajaran KKP di Soekarno-Hatta juga sudah meningkatkan kewaspadaan untuk menghalau virus Ebola. Kami juga sudah mengirim surat edaran kepada stakeholder termasuk airlines agar meningkatkan kewaspadaan," ujar Annas.
"Seluruh klinik yang ada di Soekarno-Hatta, baik itu milik Angkasa Pura II dan airlines sudah diinformasikan bahwa mereka harus segera memberi notifikasi apabila ada terduga penderita Ebola," sambungnya.
• Begal Handphone di Mustikajaya Bekasi Babak Belur Diamuk Warga
• Begini Perawatan Sapi Presiden Jokowi Agar Tetap Bugar dan Tidur Lebih Nyenyak
• VIDEO Saat Kepala Satpol PP Kota Medan Terkena Minyak Panas Saat Rusuh Penertiban PKL
Adapun upaya pencegahan serupa juga dilakukan di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura II lainnya yang memiliki jadwal penerbangan internasional.
Terkait dengan virus Ebola, pada 17 Juli 2019, World Health Organization (WHO) menyatakan wabah Ebola di Kongo harus menjadi perhatian dunia internasional.
Diketahui, pada 19 Juli 2019 WHO juga telah menerbitkan rekomendasi pencegahan penyebaran virus tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/who-menyatakan-status-darurat-global-terkait-penyebaran-virus-ebola.jpg)