Tempati Tanah Aset Pemprov DKI di Pulogadung, Warga Mengaku Diminta Bayar Rp 32 Juta Per Tahun

Penertiban ini dilakukan sekira pukul 07.30 WIB yang diawali dengan apel yang dipimpin oleh Wali Kota Jakarta Timur M Anwar.

Tempati Tanah Aset Pemprov DKI di Pulogadung, Warga Mengaku Diminta Bayar Rp 32 Juta Per Tahun
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Tuti Astuti, warga yang setahun belakangan tinggal di Jalan Ahmad Yani, Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Warga di Jalan Ahmad Yani, Pulogadung, Jakarta Timur berharapuang mereka dikembalikan oknum tak bertanggung jawab.

Sebanyak 82 unit bangunan liar di atas tanah milik Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) Provinsi DKI Jakarta ditertibkan pada Kamis (29/8/2019).

Penertiban ini dilakukan sekira pukul 07.30 WIB yang diawali dengan apel yang dipimpin oleh Wali Kota Jakarta Timur M Anwar.

Sebanyak 973 petugas gabungan dikerahkan untuk lakukan pembongkaran di lokasi, setelah melakukan sosialisasi hingga somasi sejak tahun lalu.

Tuti Astuti, salah satu warga yang menempati lokasi tersebut sejak satu tahun belakangan tidak melakukam perlawanan ketika ditertibkan.

Ia mengatakan menuruti peraturan yang ada. Namun ia menuturkan ingin menunggu uang sewanya di bangunan tersebut dibayarkan oleh oknum yang diketahui bernama Roni.

Roni meminta bayaran atas sewa lapak tanah untuk tempat tinggal maupun usaha warga yang datang dengan bayaran yang bervatiatif. Bahkan mencapai Rp 32 juta pertahunnya.

"Yang saya tau itu Roni ini kordinator di sini. Jadi kalau kita mau sewa lapak dia yang nagihin uangnya. Perenam bulan sekali kita setor ke dia. Saya sendiri setor Rp 15 juta persetangah tahun. Tiap besarannya disesuaikan dengan lapak yang dipakai. Ada yang Rp 300 ribu sampai Rp 32 juta," ucapnya di lokasi, Kamis (29/8/2019).

Rutiah, warga lainnya juga mengatakan hal senada. Dengan membawa handuk kecil sembari menunjukan kwitansi pembayaran yang di tanda tangani oleh Roni. Ia menunggu uangnya kembali.

"Saya enggak apa-apa di gusur. Tapi si Roni kan bilang tadi pagi ke saya katanya jangan kemana-mana, nanti uangnya saya ganti. Makanya saya masih bertahan dekat sini. Tiap setengah tahun saya bayar Rp 15 juta dan ini baru banget saya bayar bulan lalu," jelasnya dengan nada yang emosi.

Hingga siang hari ini, batang hidung Roni diakui keduanya belum muncul kembali di lokasi. Sementara beberapa warga sudah menunggu dengan membawa kwitansi yang diberikan oleh Roni sebagai tanda bukti transaksi.

Namun ada juga yang sudah meninggalkan lokasi setelah merapikan barang mereka di lokasi tersebut tanpa menunggu kedatangan Roni.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved