Pemprov DKI Jakarta Lakukan Evaluasi Kualitas Udara Setiap 3 Bulan

Guna menekan angka polusi udara di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan Ingub 66/2019 tentang pengendalian kualitas udara.

Tayang:
Humas Pemprov DKI Jakarta
Anies Baswedan Apresiasi Pertunjukan Terbuka Lenong Betawi di Balai Kota DKI 

Asap dan debu yang dihasilkan dari dua jenis tempat usaha tersebut dirasakan mencemari udara di sekitar lokasi.

Selain bau menyengat hasil pembakaran, warga juga tak jarang merasakan sesak nafas dan mata merah akibat kemasukan debu.

Hal ini pun disinyalir membuat seorang guru SDN Cilincing 07 terjangkit penyakit pneumonia atau infeksi paru-paru.

Guru itu bernama SA (48), mengajar siswa kelas 4 di sekolah tersebut. SA sudah sejak awal Maret lalu divonis dokter terjangkit pneumonia.

Diperkirakan sudah beraktivitas sejak tahun 1970-an

Lapak pembakaran arang dan peleburan timah di Jalan Inspeksi Cakung Drain, Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (12/9/2019).
Lapak pembakaran arang dan peleburan timah di Jalan Inspeksi Cakung Drain, Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (12/9/2019). (TribunJakarta/Gerald Leonardo Agustino)

Asap dan debu hasil aktivitas pembakaran arang dan peleburan timah di Jalan Cakung Drain, Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, dikhawatirkan warga SDN Cilincing 07.

Pasalnya, jarak antara sekolah dan industri rumahan pembuat arang dan timah itu hanya sekitar 150 meter.

Kepala Sekolah SDN Cilincing 07, Juhaedin mengaku khawatir penyakit pneumonia akibat menghirup asap dan debu tersebut bisa menjangkit pelajar ataupun pekerja di sekolah itu.

Apalagi salah seorang guru saat ini telah menjadi korbannya.

"Secara otomatis untuk kita semua ia merasa khawatir. Takutnya penyakit dari teman kita yang sudah merasakan juga kita rasakan," kata Juhaedin, Kamis (12/9/2019)

Masalah asap dan debu hasil lapak-lapak tersebut sudah bertahun-tahun menjadi masalah di Jalan Cakung Drain.

Bahkan berdasarkan keterangan dari salah seorang guru yang tinggal di lingkungan tersebut, aktivitas pembakaran arang sudah ada ketika ia pertama kali tinggal di sana tahun 1970-an.

Dahulu, pembakaran arang dan peleburan timah tak melahirkan keluhan karena belum ada permukiman maupun sekolah berdiri di sana.

Keluhan, terutama dari pihak sekolah, berangsur-angsur muncul sejak berdirinya gedung SDN Cilincing 07 di akhir tahun 1990-an.

Kini, masalah asap dan debu malah makin parah karena dampaknya begitu nyata terasa.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved