Mbah Pani Lemas Usai Lakukan Ritual Topo Pendem, Sunarto: Digoda Bola Api dan Tengkorak
Mbah Pani warga Juwana Pati Jawa Tengah selesai melaksanakan topo pendem, Sutarto warga Karanganyar mengatakan digoda bola api dan tengkorak.
Penulis: Suharno | Editor: Suharno
"Tapi tidak diazani. Karena menurut pesan dari Pak Pani, kalau azan itu ritual pelaksanaan orang meninggal dunia," paparnya.
Lubang kubur itu dibuat di dalam rumahnya. Sudah beberapa kali lubang itu digunakan oleh Mbah Pani untuk menjalani topo pendem.
Meski ratusan warga ingin menyaksikan prosesi penguburan Mbah Pani, namun hanya keluarga yang diizinkan masuk rumah.
Warga lain menyaksikan dari luar rumah.
Sebagaimana proses pemakaman biasa, Mbah Pani juga dikafani dan dimasukkan ke dalam peti.
Ada pipa untuk saluran pernapasan yang menghubungkan Mbah Pani dari dalam kubur ke permukaan tanah.
Digoda Banaspati dan Tengkorak
Topo pendem juga pernah dilakukan warga Kebaksari, Desa Kebak, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, Sutarto (55).
Sutarto mengubur diri selama lima hari untuk melakukan topo ngluweng atau pendem di pekarangan rumahnya pada tahun 2014 lalu.
Aksi topo pendem ini dilakukan karena dirinya ingin berdoa supaya keluarganya, yakni anak dan cucunya, dapat hidup bahagia dan sejahtera.
"Tujuan saya tidak cari ilmu, tetapi hanya ingin berdoa supaya anak cucu dapat hidup bahagia dan sejahtera," ujar Sutarto, Rabu (10/12/2014).
Kakek dua anak dan tiga cucu ini menuturkan, dirinya membuat kuburan sedalam dua meter.
Di dalam kuburan dilapisi papan sepanjang 1,5 meter untuk semedi dan setengah meter bagian atas ditimbun tanah.
Adapun dalamnya 125 centimeter atau 1,25 meter
Namun di pinggir liang kubur ini diberi pralon yang fungsinya sebagai ventilasi udara dan untuk penyuplai telur dan minuman.
Aksi topo pendem dia lakukan mulai Kamis (4/12/2014) malam usai magrib atau pada malam Jumat Pon, dan menyudahi pertapaannya pada Selasa (9/12/2014) malam.
"Sebenarnya saya ingin delapan hari delapan malam, tetapi karena anak saya sama tetangga saya ingin supaya saya keluar pada hari kelima, takutnya saya lemas di dalam," paparnya.
Pada saat pertapaannya, Sunarto mengaku dirinya sempat digoda beberapa mahluk halus seperti banaspati (bola api) hingga tengkorak berjalan.
Namun, dirinya juga mengatakan sempat didatangi juga oleh Sunan Lawu.
"Sunan Lawu yang berpakaian serba putih juga datang dan beliau bilang kalau saya nantinya dapat mengayomi desa ini (Desa Kebak), tinggal saya mau atau tidak," tandasnya.
• Jadwal Semifinal China Open Hari Ini - Marcus/Kevin Hadapi Rekan Senegara Demi Tiket Final
• Ini Lokasi Layanan SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya Hari Sabtu 21 September 2019
Ritual topo pendem yang menggegerkan warga tersebut, bukan kali pertama dilakukan Sutarto.
Ia mengaku pernah melakukan hal yang sama belasan tahun lalu.
Namun saat itu dia hanya mengubur dirinya selama 3 hari di pekarangan yang ada di samping rumah.
Lalu apa yang dia lakukan saat berada di dalam tanah?
"Saat melakukan ritual itu, saya kadang duduk kalau capek atau kadang juga selonjor."
"Di dalam liang rasanya panas dan sumuk (gerah)."
"Tapi harus saya lakoni (lakukan) demi mendoakan anak dan cucu, biar diberi keselamatan dan kebahagiaan," ujar Sutarto.
Meski telah sukses 2 kali melakukan topo ngluweng dan sejumlah ritual lainnya, dia tak menganjurkan pada siapapun, termasuk keluarga atau tetangga untuk meniru aksinya tersebut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/mbah-pani-menjalani-topo-atau-tapa-pendem-di-desa-bendar-rt-3-rw-1-kecamatan-juwana-pati.jpg)