Kisah Slamet Bangkitkan Semangat dan Hidupi 3 Anaknya Usai Kecelakaan

Hal ini ia buktikan dengan tetap bekerja usai mengalami kecelakan beberapa tahun lalu dan menyebabkan kakinya tak lagi dapat berfungsi normal.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Slamet Rahwan, pemulung disekitaran Jakarta Selatan, Senin (21/10/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Dibalik keterbatasan fisiknya, Slamet Rahwan (50) memiliki semangat yang tinggi untuk tetap maju.

Hal ini ia buktikan dengan tetap bekerja usai mengalami kecelakan beberapa tahun lalu dan menyebabkan kakinya tak lagi dapat berfungsi normal.

Tak hanya itu, masih di tahun yang sama ia juga harus menelan kenyataan pahit, karena istri tercintanya, Rastuti harus berpulang ke pangkuan yang Maha Kuasa akibat jatuh dari kamar mandi.

"Dulu itu saya kecelakaan, saya ditabrak dan yang nabrak juga jatuh. Saat itu kondisi kaki masih biasa aja, kemudian 3 bulan kemudian kaki saya langsung lemas enggak bisa digerakan. Di saat itu juga istri saya teriak minta tolong, mau bangun saya engga bisa. Akhirnya meninggal di RS," katanya dikediamannya, Gang Langgar 1 RT 11/8, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (21/10/2019).

Selepas kepergian istrinya, ia mengurus sendiri ke-3 anak lelakinya yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dengan kondisi fisik yang tak lagi sempurna ia harus memutar otak untuk mencari pekerjaan. Sebab sebelumnya ia sempat bekerja sebagai pengajar lukis di sanggar yang bekerjasama dengan Taman Kanak-Kanak dan SD.

Namun memutuskan keluar dan kembali lagi ke kampungnya di Pekalongan, Jawa Tengah untuk mengadu nasib hingga akhirnya kejadian buruk itu menimpanya dan menyebabkan kakinya tak lagi berfungsi normal.

"Niat saya ke kampung biar lebih dekat sama keluarga, tapi malah dapat musibah. Di kampung juga enggak ada yang mau nerima kondisi begini. Akhirnya pada tahun 2016 saya modal nekat aja, setelah menjual burung pemberian saudara saya yang saya rawatin," sambungnya.

Burung tersebut laku terjual seharga Rp 425 ribu dan kemudian dibagi dua untuk ongkos dan anak-anaknya di kampung.

Sebelum berangkat ia berpesan kepada anak tertuanya, Umar Ibnu Salman untuk menggunakan uang tersebut seperlunya.

Ia juga berjanji akan mengirimkan uang tiap pertengahan bulan untuk biaya kehidupan anak-anaknya di kampung.

"Pas seminggu di Jakarta saya belum dapat kerja juga. Uang sudah habis dan terpaksa jual HP jadul dan laku Rp 50 ribu. Dari situ sempat putus asa dan mau balik lagi tapi mikir ulang. Akhirnya mikir lagi mau kerja apa," katanya.

Hingga akhirnya ia melihat orang lain bekerja sebagai pemulung. Ia pun mencobanya dan merasakan hasilnya lumayan.

Dalam sehari ia bisa mengumpulkan barang bekas seperti botol minuman dan kardus bekas sekira 2 karung.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved