Gelar Pesta Gudeg di PIM, Founder Gernus Tekankan 5 R

Meskipun kondisi meja dan kursi sudah penuh, tampak sejumlah masyarakat yang sedang mengantre makanan.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Nur Indah Farrah Audina
Suasana di Pesta Gudeg yang berlangsung pada tanggal 22-27 Oktober 2019 di PIM, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 

Hingga sampai pada tahun 2004, dirinya harus kembali di PHK akibat EO tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan.

"Di tahun 2004 itu kan enggak kerja, justru saya bayak ditawari buat event. Akhirnya saya bilang masih jadi EO dan beranikan diri buat EO sendiri. Dulu itu saya beri nama Hohan karena mengisi acara barongsai di mal-mal," sambungnya.

Mengenal banyak orang dan memiliki banyak relasi mengantarkannya pada tawaran acara lainnya. Bahkan diminta oleh beberapa mal untuk EO dibidang kuliner.

Sambil memegang event barongsai, ia pun mulai menggelar festival sayur dan buah lokal hingga festival, kain, batik, wayang dan keris.

"Mulai dari situ fokusnya terbagi kan karena begitu megang kuliner benar-benar menyita banyak waktu. Akhirnya lahirlah Gernus ini pada 18 Agustus 2018 sebagi EO yang memfokuskan diri di bidang kuliner," katanya.

Sehingga untuk event barongsai berada dibawah EO Hohan sedangkan kuliner berada di bawah EO Gernus.

Sistem Bagi Hasil

Ketika melihat pesta kuliner atau festival di dalam sebuah mal, tentulah terselip bagaimana para pedagang membayar biaya sewa mereka.

Rupanya hal ini tak berlaku jika festival kuliner tersebut berada di bawah EO Gernus.

Yohanes selaku Founder Genus mengatakan untuk tiap pedagang tak akan dikenakan biaya sewa perhari ataupun biaya sewa hingga event itu berakhir.

Dirinya justru menerapkan sistem bagi hasil dari total penghasilan penjual perharinya selama event.

"Ini yang membedakan EO saya dengan EO lainnya. Saya menerapkan sistem bagi hasil. Jadi penghasilan hari itu 80%nya untuk penjual sedangkan sisanya untuk EO dan venue atau tempat penyelenggara," ungkapnya.

Selama ini uang hasil dari tiap event ia gunakan untuk biaya kehidupan sehari-hari. Terlebih 3 dari 4 anaknya kini sedang berkuliah dan satu diantaranya berkuliah di Thailand.

"Sistem yang beda ini kadang engga selamanya untung. Kalau 20% dari penjualnya tidak menutupi biaya sewa yang ditentukan venue berarti saya harus nombok karena kan 80% tetap untuk penjual atau pedagang. Makanya saya sering dibilang orang kerja sosial," katanya.

Kendati demikian ia mengatakan tetap senang dapat melayani dan menjembatani para pedagang kuliner khas daerah ini untuk dikenal banyak orang.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved