Kisah Cepi Penjual Koran Keliling di Usia Senja: Pernah Stroke Ringan, Tak Punya Istri dan Anak
"Untungnya ya ada. Kalau enggak ada, saya enggak akan bertahan jualan koran. Minimal Rp 1 ribu lah untungnya untuk satu koran," katanya. Tak Miliki A
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, TAMBORA - Sulaiman Effendy (76) merupakan penjual koran keliling di kawasan Tambora, Jakarta Barat.
Sejak berusia 24 tahun, dirinya memilih bekerja sebagai penjual koran di kawasan tersebut hingga saat ini.
Selepas subuh, dirinya sudah bergegas mengambil 90 koran di Jalan Hayam Wuruk.
"Enggak mau saya ganti profesi. Dari dulu sudah jualan begini. Selama saya masih kuat, saya maunya jualan koran aja. Lagian dari begini saya kenal banyak orang," katanya di Jakarta Barat, Kamis (31/10/2019).
Sudah 52 tahun berjualan koran, lelaki yang biasa disapa Cepi ini tak pernah mengurangi jumlah korannya.
Setiap harinya ia selalu mengambil 90 koran meskipun media cetak ini sudah berkurang peminatnya.
"Bedanya sekarang sama dulu cuma di jam jualannya aja. Kalau dulu lagi pas jayanya koran jualan 90 koran sebelum siang pasti sudah habis. Sampai tragedi tahun 1998, koran saya masih laku terjual. Tapi kalau sekarang belum tentu habis," sambungnya.
Kendati demikian, Cepi tetap berjuang mencari rezeki yang halal mulai hingga pukul 18.30 WIB.
Setiap koran ia jual mulai Rp 2-5 ribu.
"Untungnya ya ada. Kalau enggak ada, saya enggak akan bertahan jualan koran. Minimal Rp 1 ribu lah untungnya untuk satu koran," katanya.
Tak Miliki Anak, Istri dan menderita stroke ringan

Meskipun usianya sudah menginjak 76 tahun, semangatnya mencari rezeki tak pernah padam.
Menggunakan tongkat dan tangan yang tetap membawa koran, langkahnya terlihat tertatih.
Ya, Sulaiman alias Cepi menuturkan sudah menderita stroke ringan pada beberapa tahun lalu.