Wakil Wali Kota Tangsel Sebut Perploncoan Siswa di Ciputat Menciderai Integritas Pelajar
Benyamin mengatakan, sudah meminta Kepala Dinas Pendidikan memberikan perhatian khusus hal kekerasan di sekolah
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG UTARA - Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie, angkat bicara soal kasus perploncoan siswa di Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangsel.
Benyamin tegas menyebut hal tersebut tindakan kekerasan di kalangan pelajar, terlebih menggunakan minuman keras, menciderai integritas pelajar.
"Itu sangat menciderai integritas pelajar, status pelajar, apalagi itu madrasah kan, saya tidak pernah membayangkan itu dilakukan di tingkat sekolah apalagi madrasah makanannya itu jadi bahan evaluasi," ujar Benyamin selepas menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Harian Tangerang Selatan (WHTR) di Hotel Marilyn, Serpong Utara, Sabtu (9/11/2019).
Benyamin mengatakan, sudah meminta Kepala Dinas Pendidikan memberikan perhatian khusus hal kekerasan di sekolah.
"Saya sudah sampaikan ke kepala dinas itu organisasinya memang bukan kewenangan kita, tetapi kejadian itu betul-betul melukai semua pihak. Kok bisa gitu loh kejadian itu dilakukan oleh pelajar, itu yang menjadi perhatian kita," ujarnya.
• Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Momentum Persatuan Bangsa
Politikus Nasdem itu juga mengatakan, akan membawa kasus tersebut dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Swasta (MKKS).
"Apa yang bisa kita lakukan oleh kita semua? Untuk menghilangkan itu sementara seperti itu," ujarnya.
Selain di tataran pejabat, orang tua juga dituntut memberikan perhatian kepada anak-anaknya mengenai kegiatan di sekolah dan pertemanannya.
"Saya prihatin sekali, mudah-mudahan orangtuanya bisa memberikan perhatian tambahan kemudian sekolahnya juga bisa memberikan sanksi kalau diperlukan," ujarnya.
Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, kasus perploncoan dalam konteks pelajar bernama Vembazak itu melibatkan sembilan siswa MTS Madrasah Pembangunan dan lima pelajar alumni yang sudah bersekolah di SMA dan Aliyah yang berbeda di Tangsel.
Sembilan siswa MTS itu ditatar oleh lima alumni lantaran mereka ingin keluar dari Vembazak.
Karena para alumni ini tidak senang dengan sikap para juniornya, maka mereka ditatar dengan cara dipukul dan digampari, disuruh push up, dicekoki miras oplosan, disuruh merokok oleh para senior itu.
Bahkan ada anak yang disuruh mematikan rokok menggunakan lidah.
Pukulan yang bukan bercanda karena sangat keras itu membuat wajah para anak-anak yang ditatar bonyok.
Kejadian itu terjadi di dua lokasi terpisah, ada yang dianiaya di rumah alumni dan ada juga yang di kantin sekolah pada Senin dan Selasa (14-15/10/2019).