Kisah Purwanti, 23 Tahun Bersepeda Dagang Bubur Sumsum Hingga Mampu Kuliahkan Dua Anaknya
Dari berdagang bubur sumsum di depan TK Yasporbi setiap hari, Purwanti mampu menyekolahkan dua anaknya hingga bangku kuliah
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
Sebelum menjual bubur sumsum, Purwanti telah mencoba berjualan sayur, jamu hingga sate.
Berjualan bubur sumsum menjadi mata pencaharian terlamanya.
Terhitung, ia sudah 23 tahun berjualan bubur sumsum.
"Dari anak pertama saya berusia tiga bulan sampai saya udah punya tiga anak, saya udah jualan bubur sumsum," terangnya.
Awalnya, ia menggendong dagangannya berkeliling permukiman di Menteng Dalam.
Namun, Purwanti mengganti menjadi gerobak agar mudah dibawanya berkeliling.
Bubur sumsumnya pun dikemas dengan gelas plastik tak seperti dulu menggunakan mangkok untuk makan di tempat.
Ia sempat cekcok dengan seorang pembeli karena menghabiskan waktu yang lama saat makan di tempat.
"Karena kalau makan di tempat memakan waktu lama bisa lebih dari 10 menit," tambahnya.
Ia sempat beberapa kali mengalami kegagalan saat pertama kali membuat bubur sumsum.
Misalnya, tepung beras yang gagal karena kurang tanak sehingga berubah menjadi air, atau bubur mutiara yang hancur.
Kini, belajar dari pengalaman selama bertahun-tahun, buburnya menjadi incaran orang-orang.

Tanpa Pemanis Buatan
Alasan kenapa banyak pembeli datang silih berganti setiap hari karena bubur sumsum Purwanti dibuat tanpa pemanis buatan.
Semua komposisi membuat bubur sumsumnya tak ada campuran kimia.