Kisah Purwanti, 23 Tahun Bersepeda Dagang Bubur Sumsum Hingga Mampu Kuliahkan Dua Anaknya
Dari berdagang bubur sumsum di depan TK Yasporbi setiap hari, Purwanti mampu menyekolahkan dua anaknya hingga bangku kuliah
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
"Banyak orang bermobil ke sini, karena tahu rasa. Saya enggak pakai biang dan tanpa pemanis buatan. Gulanya asli," ujarnya.
Purwanti menjual bubur sumsum yang telah dikombinasikan dengan bubur ketan hitam, bubur mutiara, bubur kacang hijau dan biji salak.
Namun, bila pembeli menginginkan bubur tanpa kombinasi, Purwanti akan mengambil bubur dari panci yang sudah disiapkan di sekitar sepedanya.
Dalam sehari berjualan, Purwanti meraup sekitar Rp 100 ribu.
Tak jarang pembeli memberikan lebih dari harga bubur yang dihargai Rp 7 ribu per gelas itu.
• Pelatih Persija Edson Tavares Kritik Waktu Pertandingan di Indonesia
• Pembunuh Driver Ojol Penghuni Rusun Cakung Rencanakan Aksinya Saat Mabuk Minuman Keras
• Sempat Diamankan, 17 Juru Parkir Liar di Kebon Jeruk Kini Sudah Menjadi Jukir Resmi
Bisa Kuliahkan Dua Anaknya
Dari berdagang bubur sumsum di depan TK Yasporbi setiap hari, Purwanti mampu menyekolahkan dua anaknya hingga bangku kuliah.
Anak pertamanya perempuan masih kuliah di Bina Sarana Informatika (BSI) Jurusan Administrasi Perkantoran sedangkan anak keduanya laki-laki kuliah di Universitas Diponegoro jurusan Ilmu Perpustakaan.
"Anak pertama sebentar lagi wisuda yang kedua di Undip masih semester lima. Anak ketiga saya yang paling bungsu masih SMA kelas satu," tambahnya.
Ia dan suaminya, yang bekerja sebagai ojek daring, membiayai kebutuhan kedua anaknya itu.
"Banyak juga orang yang mendoakan saya ketika berjualan, agar dagangan saya laku dan berkah," pungkasnya.