Sisi Lain Metropolitan

Cerita Wanita Pemain Kuda Lumping Alami Hal Aneh: Makan Ayam Hidup-hidup Hingga Kerasukan Siluman

Ainur Langit Tian (19) mengungkapkan sederet hal aneh yang dialaminya semenjak menjadi pemain kuda lumping keliling. Seperti makan ayam hidup-hidup.

Cerita Wanita Pemain Kuda Lumping Alami Hal Aneh: Makan Ayam Hidup-hidup Hingga Kerasukan Siluman - nur-pemain-kuda-lumping.jpg
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Syifa, pemain kuda lumping keliling, sedang beratraksi menyemburkan bensin ke api saat ditemui di di Pinang Ranti, Jakarta Timur, Sabtu (21/12/2019).
Cerita Wanita Pemain Kuda Lumping Alami Hal Aneh: Makan Ayam Hidup-hidup Hingga Kerasukan Siluman - pemain-kuda-lumping-nur.jpg
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Syifa, pemain kuda lumping keliling, sedang siap-siap untuk memperlihatkan atraksi menyemburkan bensin ke api saat ditemui di di Pinang Ranti, Jakarta Timur, Sabtu (21/12/2019).
Cerita Wanita Pemain Kuda Lumping Alami Hal Aneh: Makan Ayam Hidup-hidup Hingga Kerasukan Siluman - nur-dan-syifa-pemain-kuda-lumping-keliling.jpg
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Syifa dan Nur (kaus hitam) pemain kuda lumping keliling saat ditemui di di Pinang Ranti, Jakarta Timur, Sabtu (21/12/2019).
Cerita Wanita Pemain Kuda Lumping Alami Hal Aneh: Makan Ayam Hidup-hidup Hingga Kerasukan Siluman - nur-dan-syifa-adalah-pemain-kuda-lumping-keliling.jpg
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Syifa dan Nur (kaus hitam) pemain kuda lumping keliling saat ditemui di di Pinang Ranti, Jakarta Timur, Sabtu (21/12/2019).

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, JATISAMPURNA - Ainur Langit Tian (19) mengungkapkan sederet hal aneh yang dialaminya semenjak menjadi pemain kuda lumping keliling.

Nur, begitu sapaannya, merupakan keturunan pendiri Sanggar Among Rogo.

Sebelum merantau ke Jakarta dan memperkenalkan kuda lumping sebagai kesenian khas Jawa Timur, Nur dan keluarganya bermukim di Surabaya, Jawa Timur.

Pada 1982, keluarganya memutuskan mengenalkan kuda lumping kepada warga Ibu Kota hingga saat ini.

Jadwal pementasan yang tak menentu tiap bulannya, membuat sulung dari 9 bersaudara ini harus mencari tambahan uang untuk pemasukan dan kebutuhan sehari-harinya.

Meski berkeliling, Nur mengatakan tetap menari.

Ia juga memainkan pecut hingga atraksi menyemburkan api seperti saat pementasan.

Bedanya, ketika pementasan suasana terbilang lebih khusyuk karena tiap pementasannya kuda lumping memiliki hubungan pada dunia astral atau dunia gaib.

Rupanya, pengaruh gaib juga berlaku meski Nur hanya berkeliling sekedar mencari uang.

Halaman
1234
Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved