Polemik Pembangunan Hotel di TIM

Sejarah Taman Ismail Marzuki, Dibangun Era Ali Sadikin, Didirikan Hotel Era Anies Baswedan

Sejarah Taman Ismail Marzuki, dibangun era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dijadikan hotel era Anies Baswedan.

Editor: Suharno
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Taman Ismail Marzuki diabadikan pada tahun 2015. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Puluhan tahun lalu, seniman-seniman di Jakarta mengeluhkan kurangnya fasilitas penyaluran bakat kesenian kreatif di ibu kota.

Keluhan para seniman ini kemudian ditanggapi Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1968.

Ali Sadikin menganggap keinginan para pelaku seni itu selaras dengan cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota budaya.

Menurut Ali Sadikin, Jakarta bukan saja kota dagang, pusat administrasi negara, dan pusat kegiatan politik.

Jakarta juga bisa menjadi jendela kebudayaan Indonesia bagi pendatang dari mancanegara.

"Saya ingin menjadikan ibu kota Jakarta sebagai kota budaya, di mana kesenian Indonesia dapat muncul di Jakarta,” ujar Ali seperti dikutip dari Kompas, 11 November 1968.

Pemenang Sayembara Desain Revitalisasi Monas Sebut Tak Ada Rancangan Penebangan Pohon

Bungkam Revitalisasi Monas dan Tunjuk Napi Jadi Dirut TJ, Gubernur Anies Malah Angkat Tangan

Komisi Pengarah Tegaskan Larang Anies Gelar Formula E di Area Monas dengan Pertimbangan Cagar Budaya

Sergio Farias Butuh Waktu Satukan Pemain Asing dan Lokal Persija Jakarta & Persiapan Hadapi Persela

Untuk mewujudkan sebuah pusat budaya dan kesenian di ibu kota, Ali kemudian menunjuk tujuh orang seniman sebagai formatur Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Mereka terdiri dari Mochtar Lubis, Asrul Sani, Usmar Ismail, Rudy Pirngadi, Zulharman Said, D Djajakusuma, dan Gajus Siagian.

Taman Ismail Marzuki.
Taman Ismail Marzuki. (KOMPAS/KARTONO RYADI (KR))

Tujuh seniman ini juga yang ditunjuk Ali untuk mengelola Pusat Keseniaan Jakarta.

Gubernur yang dilantik langsung oleh Soekarno itu juga meminta tujuh seniman tersebut untuk membuat sebuah kegiatan seni untuk dapat dipertontonkan ke khalayak ramai.

"Tugas kami, pemerintah daerah, adalah menyediakan infrastruktur fasilitas berkreasi bagi saudara-saudara seniman budaya di Ibu Kota," ucap Ali.

"Selanjutnya, kegiatan kreatif terserah. Kami pemerintah tidak ikut campur," sambungnya.

Akhirnya, Ali membangun Pusat Kesenian Jakarta yang kemudian diberi nama Taman Ismail Marzuki (TIM).

Ali memilih areal bekas kebun binatang yang luasnya kurang lebih delapan hektar di Jalan Cikini Raya 73.

Lokasi ini dipilih Ali lantaran mudah dijangkau masyarakat dengan berbagai macam alat transportasi.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved