Sisi Lain Metropolitan

Kisah Bolot Jadi Badut Mampang di Cibubur: Dulu Berkecukupan, Kini Cari Uang Buat Pemakaman Dirinya

Makroni merupakan bapak satu anak asal Cirebon yang biasa disapa Pak Bolot. Ia menjalani hari-harinya menjadi badut mampang.

Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Makroni, badut mampang di Lampu Merah Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/2/2020) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, JATISAMPURNA - Masih bekerja di usia senja, Makroni (75) simpan uang untuk masa depan.

Makroni merupakan bapak satu anak asal Cirebon yang biasa disapa Pak Bolot.

Sejak dua tahun lalu, Makroni menjalani hari-harinya sebagai badut mampang di lampu merah Cibubur, Bekasi.

Makroni, badut mampang di Lampu Merah Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/2/2020)
Makroni, badut mampang di Lampu Merah Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/2/2020) (Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Dengan modal uang Rp 1 juta untuk membeli kostum, Makroni beralih profesi dari pemulung ke badut mampang.

"Kalau seperti ini sudah ada 2 tahun," ujarnya kepada TribunJakarta.com, Rabu (12/2/2020).

Lanjut, Makroni menceritakan dulunya ia hidup serba berkecukupan.

Ketika di kampung, Makroni disekolahkan oleh orang tuanya di pesantren. Usai lulus ia bekerja di kantin kampus.

"Sayangnya jualan lama itu kok enggak ada hasil. Akhirnya saya mulung, jadi topeng monyet juga pernah. Sampai akhirnya jadi begini," sambungnya.

Makroni, badut mampang di Lampu Merah Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/2/2020)
Makroni, badut mampang di Lampu Merah Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/2/2020) (Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Sebelumnya Makroni tak pernah tertarik untuk menjadi badut mampang.

Selain enggan menyewa baju, ia juga malas berurusan dengan Satpol PP maupun Satgas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S).

Namun, karena keberadaan topeng monyet sudah dilarang, dengan terpaksa ia beralih pekerjaan.

Benar saja, belum ada satu bulan menjadi badut mampang, Makroni sudah terjaring razia P3S.

"Waktu itu saya jadi badut mampang di dekat rumah di BKT. Karena di Duren Sawit itu suka ada razia saya ketangkep dan di bawa ke Sudin Sosial Jakarta Timur dan buat pernyataan," katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved