Suhari Juragan Dawet Beromzet Rp 17 Juta per Hari: Dulu Harga 1 Mangkok Rp 50

Dulu pernah jualan dawet semangkok Rp 50 dan kerap diledek anak-anak yang seolah-olah ingin membeli tapi tidak. Kini omzet Suhari Rp 17 juta per hari.

Tayang:
Editor: Erik Sinaga
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Ilustrasi penjual dawet 

"Yang penting, kami itu bisa mempekerjakan banyak orang karena ada saudara dan para tetangga," ujarnya.

Sikat Gigi dan Berkumur di Siang Hari Bisa Membatalkan Puasa? Simak Penjelasan Lengkapnya

Melihat kesuksesannya sekarang ini, ia tak jumawah dan tetap rendah hati.

Malah pesannya, jangan dilihat sekarangnya, namun proses berat, yang dilalui dulu. Sebab, ia tak tiba-tiba berjualan menetap melainkan berangkat dari nol.

Itu diawali dari tahun 1993 dulu, saat dirinya masih berjualan keliling.

Fakta Viral Pria Bekasi Bacok Satpam Usai Ditegur Tak Pakai Masker, 2 Hari Sebelumnya Sempat Cekcok

Setiap hari, ia harus mendorong gerobak dawetnya berpuluh-puluh kilo-kilo.

"Saat itu, harganya masih Rp 50 (dan kini sudah Rp 2.500 per mangkok). Dulu, saya keliling, mulai kantor Kecamatan Sutojayan, terus ke barat (Kecamatan Kademangan), kembali atau pulang lewat Kecamatan Kanigoro sambil mendorong gerobak," paparnya.

Setelah keliling sekitar 10 tahun, baru tahun 2003, ia berjualan menetap di timur lampu merah Sutojayan dan hingga saat ini.

Itu karena ia punya pikiran, dirinya kian tua dan tenaganya makin menurun.

Apa kenangan tak enak dan tak terlupakan, sebentar mengeryitkan dahi, ia menuturkan, saat berjualan keliling dengan gerobak, dirinya sering digoda anak-anak.

Reaksi Atta Halilintar Dituding Rekayasa Hubungan dengan Aurel, Irfan Hakim Kaget: Beneran?

"Saat saya lewat, anak-anak itu memanggil tumbas-tumbas. Saya balik, ternyata anak-anak itu tak beli. Malah bilang, siapa yang beli Pak, wong saya memanggil teman saya, yang bernama abas," kenangnya, yang mengaku kedengarannya seperti tumbas.

Dawet milik Suhari memang sulit ditandingi cita rasanya meski banyak penjual dawet di sekitarnya.

Sinta, gadis berusia 20 tahun, yang lagi nyeruput di bedak dawet Suhari siang itu, menuturkan, rasa khasnya tiada dua.

Selain rasa khas gula jawanya, juga aroma wangi pandannya, terasa banget.

Selain itu isinya cukup bervariasi, di antaranya, selain ada mutiara, ada jenang putih (terbuat dari tepung beras), jenang grendul (terbuat dari tepung ketan), jenang hitam (terbuat dari tepung ketan hitam).

"Sakinng enaknya, sampai saya nggak bisa mengambarkannya. Apalagi diminum saat haus atau lagi cuaca panas dan ditambah es, itu seger banget," ungkapnya.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved