Ramadan 2020

Curhat Pedagang Parsel di Barito Kebayoran, Berusaha Bertahan di Masa PSBB: Pahit dan Prihatin

Menjelang Hari Raya Lebaran, penjual parsel mulai menjajakan dagangannya di Kawasan Barito, di tengah pandemi Covid-19, pendapatan mereka menurun.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Suasana penjual parsel di Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (16/5/2020). 

"Itu pun lima orang udah ngoyo," beber pria yang menjual parsel barkisar antara Rp 200 ribu sampai Rp 700 ribu itu.

Padahal, dulu pelanggan yang datang minimal 15 orang sehari. Paling tinggi pernah 25 orang.

Sogiman menambahkan salah satu faktor penyebab pendapatannya merosot juga waktu jam buka yang terbatas.

Sebelum masa pandemi, kios-kios parsel jelang Lebaran buka hingga dini hari. Sedangkan saat ini harus mengikuti anjuran pemerintah.

"Jam 5 sore harus sudah ditutup. Para pelanggan kan biasanya datang itu malam," ungkapnya.

Kendati demikian, ia mau tak mau harus bersyukur karena masih bisa diizinkan buka oleh pemerintah.

Senasib dengan Sogiman, Marmi yang sibuk membungkus parsel di depan kiosnya juga mengalami penurunan pendapatan.

Pendapatannya merosot sebesar 70 persen. Ia kehilangan banyak pelanggan dari sejumlah perusahaan.

"Pendapatannya prihatin mas," ujarnya seraya membungkus parsel dengan plastik.

Pedagang yang sudah berjualan sejak 1984 itu juga mengatakan penurunan pendapatan juga dipengaruhi pembatasan jam buka.

Biasanya, kios Marmi buka sampai jam 2 dini hari. Selama buka, ada saja pembeli yang berminat dengan parselnya.

Marmi berharap pemerintah lekas melonggarkan penerapan masa Pembatasan Sosial Berskala Besar agar jam buka kiosnya kembali seperti semula.

Jualan online

Suasana penjual parsel di Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (16/5/2020).
Suasana penjual parsel di Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (16/5/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Yasin (27), pekerja parsel di Tiga Saudara parsel, mengatakan saat ini ia meladeni banyak pesanan dari pelanggan.

Kiosnya membuka layanan parsel secara daring (online) sehingga banyak orang yang tertarik memesan.

Baru Tiga Saudara yang membuka layanan secara daring.

Sedangkan Kios Marmi dan Sogiman tidak membuka layanan daring.

"Kebantu layanan online, karena kita pasang di Tokopedia. Tadi sudah 15 parsel orang yang pesan," kata pria asal Purbalingga tersebut.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved