Pengamat Beberkan Kelemahan Penyelenggaraan Pilkada Serentak di Tengah Pandemi Corona
Kampanye online yang digadang sebagai pengganti pun masih memiliki kelemahan. Akses teknologi maupun pengetahuan digital belum merata di Indonesia
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Muhammad Zulfikar
Jika kampanye terbuka ditiadakan, gairah masyarakat untuk mencoblos akan meluruh.
Antisipasi terhadap penularan Covid-19 juga bisa menjadi alasan masyarakat tidak keluar rumah ke TPS.
"Dalam kondisi darurat seperti ini partisipasi masyarakat pasti sangat rendah. Alasanya ada dua hal, yang pertama ya takut karena corona, kedua karena memang tidak ada yang mentriger mereka untuk datang ke TPS," ujarnya.
Rendahnya tingkat partisipasi pemilih tentu menentukan kualitas Pilkada. Legitimasi terhadap pemimpin yang terpilih pun akan rendah.
"Kalau tingkat partisiapsi masyarakat rendah berpengaruh terhadap legitimasi sang pemenang, anggaplah yang berpartisipasi itu 50%, cuma separuh masyarakat yang mengakui Pilkada berlangsung, separuhnya enggak datang. Artinya kualitas demokrasi kita enggak bagus," ujarnya.
Pada konteks Indonesia yang unik dibandingkan negara lain karena virus menyerang menjelanh Pilkada, corona menjadi ancaman bagi demokrasi.
"Sangat mengancam demokrasi, terutama dari segi partisipasi," tuturnya.