Breaking News:

Tahun Ajaran Baru

Kisah Perjuangan Para Guru yang Datangi Muridnya Satu per Satu di Rumah Karena Susah Sinyal

Seorang guru di Magelang datangi muridnya satu per satu untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.

Penulis: Suharno | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
ISTIMEWA
Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring. 

Tidak hanya Ifan seorang, kunjungan ini juga dilakukan oleh guru-guru di SD N Growong yang totalnya berjumlah delapan orang.

Sementara untuk jumlah siswa kelas 1 ada 12 orang, dan secara total jumlah siswa di SDN Growong ada 108 orang.

"Karena rumahnya (siswa) kan berjauhan. Desa kami itu ada empat dusun, jadi gurunya dibagi untuk tiap-tiap dusun. Karena jalannya yang mungkin agak susah, jadi bersama-sama, dua-dua gitu. Memang aksesnya agak sulit," kata Ifan.

Daring dianggap tidak efektif
Ifan menyebut bahwa pembelajaran daring sebenarnya tidak ideal, terutama bagi siswa yang masih duduk di kelas satu.

"Kelas satu belum bisa apa-apa, belum bisa nulis, (tulis) namanya sendiri saja belum bisa. Orangtua juga kesulitan, karena mereka bekerja. Akhirnya anak main sendiri," kata Ifan.

Untuk siswa di tingkat yang lebih atas, karena pembelajaran daring tidak memungkinkan, maka siswa hanya diberikan tugas yang nantinya diambil oleh orangtua di sekolah.

Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring.
Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring. (ISTIMEWA)

"Kalau tugas-tugas saja, itu namanya bukan pembelajaran. Kami bingung juga ini sebagai guru di daerah terpencil. Kalau Jakarta kan enak, mau Zoom mau apa bisa, lha kami? di sini HP Android saja belum punya," kata Ifan.

Kendala utama menurutnya adalah minimnya sinyal telekomunikasi di daerah tempatnya mengajar.

Sekolah tempat Ifan mengajar terletak di daerah pegunungan, sehingga akses untuk sinyal komunikasi terbilang sulit.

"Kadang-kadang orang tua menghubungi saya 'Maaf pak guru, saya harus naik gunung biar dapat sinyal', atau 'Maaf pak guru saya harus pergi ke kebun biar dapat sinyal'. Maka mereka yang punya WA itu mengirimkannya (tugas) kadang-kadang malam hari, saat orang lain sudah pulang, atau minta tolong tetangganya yang punya HP untuk mengirimkan, lama-lama kan enggak enak juga," kata Ifan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved