Aktivis Protes Deportasi Warga Uighur dari Turki

Beijing pernah mengirim permintaan kepada pemerintah Turki untuk mengekstradisi seorang warga Uighur sebelumnya.

Editor: Muhammad Zulfikar
Twitter @AbdugheniSabit
Ilustrasi 

Turki dan China juga dikabarkan telah menandatangani draft perjanjian ekstradisi pada 2017 tetapi parlemen Turki belum meratifikasinya.

Di bidang ekonomi, pada 2010, Cina dan Turki menandatangani delapan pakta perjanjian strategis yang bisa meningkatkan volume perdagangan tahunan mereka menjadi 100 miliar dolar pada tahun ini.

Tahun lalu, bank sentral China memberikan suntikan uang tunai senilai 1 miliar dolar ke dalam perekonomian Turki untuk menalangi bank-bank lokal yang tengah kesulitan. Beijing bahkan telah menyetujui paket tambahan 3,6 miliar dolar untuk membantu pengembangan sektor energi Turki.

Karena alasan inilah, Erdogan diduga tidak akan mengatakan apa pun tentang Uighur. Presiden Turki berhutang budi kepada China seperti negara-negara Muslim lainnya.

Senada hal itu, media Jerman DW.de, Selasa (28/7), menyebutkan bahwa sejak negeri di dua benua itu dilanda krisis ekonomi, sikap Ankara terkait Uighur mulai berubah. Dalam kunjungannya ke Beijing Juli 2019 silam, Erdogan menyatakan warga Uighur di Xinjiang dalam kondisi baik-baik saja di hadapan media pemerintah, lapor Financial Times.

Selain Turki, sejumlah negara yang awalnya melindungi pelarian Uighur dari China kini berbalik arah dan mendorong agar mereka dideportasi. China menggunakan kekuatan ekonominya untuk menekan negara-negara tempat warga Uighur meminta perlindungan.

https://www.wionews.com/world/why-erdogan-has-decided-to-extradite-uighurs-to-china-316326

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved