Maling Ikat Satu Keluarga di Ciracas
Korban Perampokan Ciracas: Kalau Pelaku Ditangkap Kami Tak Trauma Lagi
Zulhan Efendi (40) masih berupaya agar istri dan enam anaknya bisa pulih dari trauma aksi perampokan yang menimpa keluarganya pada Selasa (4/8/2020).
Penulis: Bima Putra | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Upaya melacak keberadaan pelaku lewat tiga handphone keluarganya yang digondol juga belum berhasil, hanya satu handphone baru ditemukan.
"Tapi handphonenya dibuang depan gerbang tol, saya lupa tol mana. Mungkin bisa jadi taktik pelaku mengecoh polisi, seakan-akan mereka masuk tol, padahal enggak," sambung dia.

Polrestro Jakarta Timur sendiri tampak irit bicara saat dikonfirmasi perihal penanganan kasus pencurian disertai kekerasan (Curas) ini.
Kapolrestro Jakarta Timur Kombes Arie Ardian Rishadi meminta wartawan mengonfirmasi penanganan ke Kasat Reskrim AKBP Imron Ermawan.
Tapi hingga berita ditulis orang nomor satu di Satuan Reserse Kriminal Polrestro Jakarta Timur itu urung memberi keterangan.
Pesimis Hartanya Kembali
Haryanti (34) dan suaminya, Zulhan Efendi (40) pasrah hartanya sekitar Rp 300 juta digondol komplotan maling pada Selasa (4/8/2020) lalu.
Pasutri warga RT 08/RW 04, Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas itu pasrah karena empat hari berlalu setelah kejadian tapi pelaku masih buron.
"Kayaknya sudah mereka (pelaku) bagi-bagi uangnya, jadi saya enggak berharap bisa kembali. Memang pas kejadian uang saya taruh rumah," kata Haryanti di Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (7/8/2020).
Tak mudah bagi Haryanti dan Zulhan merelakan uang Rp 170 juta, sejumlah perhiasan emas, tiga handphone, dan sejumlah slop rokok digasak.
Terlebih uang Rp 170 juta harusnya digunakan membayar kewajiban sebagai pemilik warung ke sejumlah sales product yang datang.
"Karena dari sebelum lebaran (Idul Adha 1441 H) sales enggak datang-datang jadi uangnya masih utuh, belum dibayar. Itu uang buat bayar ke sales produc dagang warung," ujarnya.
Haryanti mengaku hanya berharap jajaran Satreskrim Polrestro Jakarta Timur lekas membekuk enam rampok yang membobol rumahnya.
Dia tak hanya khawatir pelaku dapat kembali beraksi, ketakutannya paling besar pelaku makin bengis saat melakukan aksinya.
Mengingat empat dari enam pelaku yang masuk rumahnya tak sekedar mengikat tangan dan kaki Haryanti dan enam anaknya dalam kamar.