Jakob Oetama Meninggal Dunia

Herman Darmo Kenang Jakob Oetama Sering ke Daerah Kelola Media Lokal Meskipun Rugi Asal Bertahan

Mantan Direktur Kelompok Tribun Network Herman Darmo mengenang pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama yang selalu memperhatikan pers daerah.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
CEO Kompas Gramedia yang juga anak dari almarhum Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama, Lilik Oetama berada didekat jenazah saat disemayamkan di Kantor Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (9/9/2020) malam. Jakob Oetama meninggal dunia di usia 88 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara akibat gangguan multiorgan, dan rencananya akan dimakamkan di TMP Kalibata pada Kamis (10/9). 

"Harian Surya, misalnya, kata Pak Jakob, walaupun rugi, tidak apa-apa, asalkan bertahan, untuk mendapat kelangsungan hidup Kompas. Petinggi lain tidak melihat itu. Tidak setuju itu. Sehingga hanya Pak Jakob paling rajin kunjungan ke koran-koran daerah," katanya.

Herman Darmo mengakui, bagi Tribun Network, jasa almarhum luar biasa. Herman mengambil contoh, untuk media-media Tribun Network, saat ini punya koran 25 di berbagai daerah dan online lebih dari 50. "Mari sejenak tengok waktu ke belakang, kurang lebih 15 tahun yang lalu."

Herman mengenang, saat itu masih bernama Indopersda atau Pers Daerah (Persda). Ketika itu, performa Persda masih jelek. "Saya sebagai Direktur Kelompok, saat datang rapat ke kantor pusat Kompas Gramedia di Palmerah, rasanya malu hati. Sebab Persda seakan-akan menjadi bahan ejeken."

“Ini lho, yang habisi uang kita,” nadanya seperti itu sering muncul dari pimpinan Kompas Gramedia terhadap Persda.

Herman mengatakan, dalam situasi seperti itu, hanya Jakob Oetama lah yang sangat menghargai. Beliau tidak melihat semata-mata angka-angka keuangan –seberapa besar laba-- yang dipresentasikan.

Ketika Persda masih rugi pun kita dihargai.

Beliau mengatakan, “kerja keras kalian koran daerah sangat luar biasa. Mana ada waktu teman-teman di Palmerah yang kerja keras seperti kalian?” Palmerah adalah kawasan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, letak kantor pusat Kompas Gramedia.

Tahun berganti, zaman pun berubah. Persda berkembang lalu bermetamorfosis menjadi Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia, dan media-media merek Tribun mulai dari Tribun Kaltim, 8 Mei 2003. Semula perusahaan rugi, belakangan menguntungkan.

Ketua DPRD DKI Jakarta Tantang Anies Baswedan Tindak Tegas Pelanggar PSBB

Kebijakan Ganjil Genap Pelat Kendaraan Pribadi di Jakarta Ditiadakan Mulai Senin 14 September 2020

Dan ketika perusahaan sudah untung pun, Pak Jakob mengatakan, bahwa itu berkah kerja keras manajemen media-media Tribun di daerah.

"Apa maknanya itu? Tak lain adalah nilai. Beliau selalu mengingatkan nilai-nilai falsafah dalam keseharian. Beliau tahu, bahwa awal-awal, sampai tengah perjalanan Tribun Network, personel yang ditugasi ke daerah, adalah semacam warga kelas tiga dan kelas empat. Artinya kualitas rendah. Termasuk saya dan mendiang Valens Doy (wartawan Kompas dan mantan Direktur Persda) adalah ‘warga negara buangan’, kelas 3 dan nomor 4. Jangankan kualitas 1, kita nomor tiga atau empat. Kita tidak bisa merekrut kelas 2, karena memang tidak punya dana," ujarnya.

"Nah, sekarang, setelah wafat Pak jakob Oetama. Kita punya banyak problem, termasuk masalah kualitas pemberitaan Tribun. Falfasah jurnalisme. Siapa lagi yang akan selalu mengingatkan nilai-nilai itu, falsafah manusia, kemanusiaan berikut segala problematikanya, semangat berpihak pada orang kecil itu?" pungkasnya. (amb)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jakob Oetama di Mata Herman Darmo: Rajin ke Daerah untuk Mengelola Koran Kecil yang Masih Rugi

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved