Selama 2020, Tim TPPO Tangsel Hanya 2 Kali Beroperasi Gegara Pandemi Covid-19

Tim TPPO Tangsel rasanya baru terdengar setelah beberapa hari lalu mengamankan dua wanita penjaja seks.

ISTIMEWA
Ilustrasi: Satgas TPPO Bongkar Dugaan Penganiayaan Tasini di Arab Saudi 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Tim Pengawasan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Tangerang Selatan (Tangsel) rasanya baru terdengar setelah beberapa hari lalu mengamankan dua wanita penjaja seks.

Dua wanita yang diduga korban TPPO itu terjaring pada 25 dan 29 September 2020.

Beritanya pun membuat geger, lantaran aksi penjaja seks itu dilakukan selama lima bulan di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Kasi Perlindungan Hak Perempuan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB), Hartina Hajar, mengatakan, selama 2020 ini, Tim TPPO Tangsel baru menggelar tiga kali operasi.

Selain dua hari operasi di akhir September itu, operasi pertama pada tahun 2020, dilakukan pada Maret 2020.

"Bukan baru turunnya dua hari. Tapi agenda kita di tahun 2020, itu kan kemarin kita sudah turun pertama pada Bulan Maret," ujar Hartina melalaui sambungan telepon, Kamis (1/10/2020).

Dari Maret itu, DPMP3AKB baru mengagendakan operasi TPPO lagi enam bulan setelahnya, yakni pada 18 September 2020.

Itupun gagal karena alasan pandemi Covid-19. Hartina mengaku jadwal operasinya berantakan akibat serangan virus corona itu.

"Pada Bulan Maret itu kita sudah agendakan juga pada tanggal 18 September kemarin, cuma dibatalkan karena ada PSBB. Kita tunda, kan teman-teman tahu sendiri, sejak Maret ada pandemi, jadi jadwal kita berantakan," ujarnya.

Selama jeda enam bulan itu, Pemkot Tangsel hanya menggelar rapat koordinasi sebagai bentuk upaya intervensi terhadap TPPO.

Kupu-kupu Malam di Tangsel Mengaku Layani Dua Pria Hidung Belang dalam Sehari

Polisi Tak Temukan Luka Aniaya di Tubuh Bayi Prematur yang Dibuang di Kali Cipinang

"Terus dengan keterbatasan yang ada, kita menggelar rapat koordinasi melalui webinar yang dibuka kepala dinas, dihadiri instansi terkait yang tergabung dalam Tim Pengawasan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dari kepolisian, juga dari Kejari Tangsel, terus ada juga dari Dinas Sosial, dan lain lainnya, termasuk unsur masyarakat," ujarnya.

Hartina bahkan mengatakan, pihaknya tidak memiliki data TPPO di wilayahnya.

"Kalau untuk mengatakan berkurang atau bertambah harus pakai data, Mas. Kita belum punya data untuk mengatakan seperti itu. Saat ini kita turun ke lapangan untuk mengurangi, karena kita tidak mungkin bisa menghilangkan," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved