Sisi Lain Metropolitan
Cerita Yusuf Sarwo Edi, Petugas Damkar Ciganjur yang Tampung 6 Anak Jalanan Jadi Tukang Urut Cimande
Petugas damkar Ciganjur, Yusuf Sarwo Edi (42) mendirikan Padepokan Padjajaran Cimande di Desa Citayam, Kecamatan Tajur Alang, Bojonggede.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Petugas Damkar Ciganjur, Yusuf Sarwo Edi (42) mendirikan Padepokan Padjajaran Cimande di Desa Citayam, Kecamatan Tajur Alang, Bojonggede.
Pembangunan padepokan berawal dari terbatasnya waktu latihan bela diri silat di sekolah.
"Berangkatnya dari pecinta seni budaya. Kami kalau mengajar silat di sekolah-sekolah dibatasin terus waktunya. Jam 5 udah diminta pulang. Kalau ada kompetisi kan harus ada latihan tambahan. Di situlah berdirinya Padepokan Padjajaran Cimande," ungkapnya kepada TribunJakarta.com pada Senin (23/11/2020).
Padepokan itu resmi berdiri pada 16 September 2009.
Selain silat, padepokan itu juga mengajarkan pengobatan tradisional pijat dan urut.
Yusuf juga mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah yang menampung sejumlah santri dengan latar belakang bermasalah.
"Anak-anak nakal saya tampung. Ada 6 orang. Saya ajarkan urut di sana. Jadi jangan aneh kalau datang yang mengurut nanti anak-anak yang bertato. Alhamdulilah mereka sudah tobat semua," ungkapnya.
Kisah Petugas Damkar ahli pijat dari Cimande
Sebagai seorang petugas damkar, Yusuf Sarwo Edi (42) bukan saja bergulat dengan urusan api dan evakuasi.
Kedua tangannya juga piawai mengurut tulang pasien yang cedera.

Ilmu pijat dan urut didapatnya dari Cimande, kampung pengobatan tulang tradisional nan tersohor itu.
Pos Damkar Ciganjur, di Kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, terkadang mendadak berubah menjadi balai pengobatan tulang tradisional bagi Yusuf.
Bila sedang berdinas, banyak pelanggannya yang datang ke pos damkar untuk minta diurut.
Yusuf terkenal piawai dalam mengobati pasien yang mengalami patah tulang.
Namanya dikenal dari mulut ke mulut.