Food Story
Mie Aceh Kring-kring di depan Balai Sudirman, Tebet: Dimasak dari Dalam Bus Mercy Antik Tahun 1984
Hanif Cordova menyulap bagian dalam bus Mercy itu menjadi sebuah dapur khusus masakan Aceh.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Modifikasi bus
Hanif membutuhkan dana tak sedikit untuk memodifikasi bus itu.
Sekira Rp 100 juta dikeluarkan dari dalam koceknya.
Ia mencat ulang busnya menjadi warna oren agar terlihat mencolok.
Bagian dinding bagian samping dan belakang dipotong agar juru masak merasa leluasa.
Bagian atapnya juga ditinggikan sehingga karyawan bisa nyaman ketika memasak.
Di dalam bus itu terdapat dua buah kompor, alat pemanggang, kulkas, freezer, rak-rak berisi piring dan peralatan masak.

"Untuk tempat membuat minuman seperti kopi saring khas Aceh berada di luar," ucapnya.
Ketika mulai buka, bus itu dikeluarkan dari dalam Balai Sudirman. Bus akan dimasukkan kembali bila hendak tutup.
Mobilitas bus hanya sebatas itu saja. Dalam sebulan, Hanif hanya mengisi bahan bakar jenis solar sebanyak 10 liter.
Baca juga: Laga Liga Italia Juventus Vs Napoli Diulang, Si Nyonya Tua Berkurang 3 Poin
Kuliner Kayak Rempah Khas Aceh
Hanif memang menyuguhkan sajian kuliner khas kampung halamannya asal Serambi Mekah alias Aceh.
Mulai dari nasi goreng, mie, martabak dan roti canai. Pilihan minumannya juga khas. Antara lain, kopi saring, teh tarik dan es timun.
Harganya pun cukup terjangkau.
Dalam meracik resep, ia belajar dengan pamannya yang sudah berjualan mie aceh selama 30 tahun.
