Breaking News:

Virus Corona di Indonesia

Pengamat Sosial UI Soroti Raffi Ahmad Divaksin Covid-19 Bareng Presiden Jokowi

Raffi menjadi satu-satunya selebriti yang divaksin bersama Presiden, dan mewakili kalangan milenial Indonesia.

TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rachmawati, saat menjadi pembicara dalam dalam Program Pengabdian Masyarakat Memforward Manfaat berjudul Literasi Tangkal Infodemik : Gerakan Mencari Solusi di Tengah Pandemik di Gedung Pusgiwa UI, Beji, Jumat (14/8/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Nama selebritis kawakan, Raffi Ahmad, tengah menjadi perbincangan hangat usai menjalani vaksin Covid-19 bersama dengan Presiden Joko Widodo siang ini di Istana Negara.

Raffi menjadi satu-satunya selebriti yang divaksin bersama Presiden, dan mewakili kalangan milenial Indonesia.

Usai divaksin, nama Raffi Ahmad pun langsung berada di puncak trending sosial media twitter. Sebagian netizen, sempat mempertanyakan kapasitas Raffi yang dipercaya mampu mensosialisasikan vaksin ini pada seluruh masyarakat.

Lantas, bagaimana tanggapan pengamat sosial akan hal ini. 

Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menjelaskan, proses yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mau dan menerima, seperti melakukan suatu  aksi yang mana dalam hal ini adalah divaksin Covid-19, tidaklah sederhana.

“Paling tidak ada empat proses menuju hal tersebut yaitu A-I-D-A ,yaitu awareness (tahu dulu), interest (tertarik), desire (bersemangat), action (beraksi),” ungkapnya dalam pesan singkat pada wartawan, Rabu (13/1/2021).

“Butuh proses yang tidak mudah bagi setiap individu untuk menerima ajakan hingga melakukan sebuah aksi. Untuk itu diperlukan berbagai cara agar masyarakat tahu, tertarik, bersemangat dan akhirnya beraksi (AIDA),” timpalnya lagi.

 Menurut Devie, masyarakat Indonesia memiliki karakter hirarkis dan hubungan sosial antara patron (individu yang berada di puncak hirarki atau panutan publik) dengan klien (individu yang berada di posisi bawah dalam hirarki sosial).

“Adanya patron yang dihormati, diteladani hingga diikuti oleh para klien, maka ketika para patron mendemonstrasikan suatu aksi, berpeluang besar diikuti oleh masyarakat luas,” bebernya.

Baca juga: Pemkot Jakarta Timur Akan Bantu Biaya Pengobatan Ichsan Bocah yang Menderita Kanker Darah

Baca juga: Ichsan Penderita Kanker Darah di Pondok Kopi Akan Dapat Pemantauan dari Pihak Puskesmas

Baca juga: Kapasitas RS Covid-19 di DKI Hampir Penuh, Riza Patria: 30 Persen Pasien Bukan Warga Jakarta

Sementara Raffi Ahmad, merupakan orang yang masuk dalam kategori patron tersebut.

“Sederhananya mereka yang masuk dalam kategori 4K yaitu individu-individu yang memiliki kekuasaan (RT, Lurah, Kades hingga presiden), ketenaran (para selebritis), kekayaan, dan kewibawaan ( tokoh agama, tokoh masyarakat). Ketika para patron (panutan publik) ini melakukan aksi, maka akan menimbulkan bandwagon effect (dampak ikutan),” bebernya.

Ibarat Raffi Ahmad adalah sebuah Lokomotif dan mengarah ke Utara, maka gerbong (masyarakat) berpotensi besar mengarah ke ke Utara juga.

“Jadi para patron (panutan publik) harapannya dapat menjadi lokomotif terdepan dalam berbagai proses transformasi sosial termasuk program vaksin,” pungkasnya.

Penulis: Dwi Putra Kesuma
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved