Pentingnya Tes Pendengaran Bayi Sejak Dini, Apa Yang Perlu Dilakukan?
Melakukan tes pendengaran bayi harus sejak sedini mungkin, untuk mengetahui apakah ada gangguan pendengaran pada bayi.
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Suharno
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Melakukan tes pendengaran bayi harus sejak sedini mungkin.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada gangguan pendengaran pada bayi sehingga dapat segera ditentukan langkah penanganannya.
Jika terjadi gangguan pendengaran, dan tidak segera ditangani, tentunya ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi.
TONTON JUGA:
Mulai dari mengenali bahasa, hingga sampai pada kasus keterlambatan bicara.
Seperti yang diungkapkan oleh dokter Spesialis THT dari Eka Hospital Pekanbaru, Benny Hidayat.
Baca juga: Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Perintahkan Camat-Lurah Pantau Titik Rawan Genangan dan Banjir
Baca juga: Tetangga Sekitar Belum Mengetahui Kabar Ayu Ting Ting Segera Naik Pelaminan, Ini Suasana Rumahnya
Baca juga: Pendaftaran Seleksi CPNS 2021 Bakal Dibuka Lebih Awal, Simak Sejumlah Tahapan dan Syaratnya
Baca juga: Ramalan Shio Kelinci di Tahun Baru Imlek 2021: Usaha Naik Turun, Keuangan Jadi Lebih Baik
"Harus kita perhatikan sedini mungkin, supaya kalau terjadi gangguan bisa kita lakukan intervensi sedini mungkin. Gangguan pendengaran bisa akibatkan gangguan perkembangan di fungsi-fungsi lain, salah satunya adalah gangguan berbicara pada bayi tersebut," kata Benny dikutip dalam siaran IG TV Eka Hospital, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, bahwa kemampuan mendengar bayi sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak ia masih berada di dalam kandungan.
Pada usia kehamilan 9 mingguan, gendang telinga sudah mulai terbentuk dan terus mengalami perkembangan hingga usia kehamilan 20 mingguan.
Sehingga tes pendengaran pada bayi pun dapat dilakukan sejak ia baru dilahirkan.
Pada beberapa rumah sakit, tes pendengaran biasanya dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya respon terhadap rangsangan suara di saraf pendengaran bayi yang baru lahir.
Meski gangguan pendengaran pada bayi ini merupakan masalah yang tak kasat mata seperti penyakit lainnya, namun para orangtua dapat mengenali beberapa ciri khusus terkait pendengaran bayi sedini mungkin.
"Jadi selain tes di rumah sakit, orangtua sebenernya juga bisa mengenali perkembangan pendengaran pada bayi. Secara umum, ada reflek-reflek normal pada bayi yang masih kecil" imbuh dr Benny.
Pada bayi yang normal, secara umum akan melakukan reflek-reflek tertentu ketika menerima rangsangan.
Di usia 0-3 bulan, biasanya bayi mampu merespon rangsangan suara dengan reflek yang sederhana.
Misalnya bayi merasa seperti terkejut, atau akan berhenti menyusu ketika mendengar stimulus bunyi saat sedang menyusu.
"Atau mungkin nafasnya menjadi cepat, denyut jantungnya meningkat, nah reflek-reflek ini secara subjektif bisa dikenali oleh orangtua," katanya.
Selain itu, pada usia 4-7 bulan, secara umum bayi mampu merespon stimulus bunyi dengan gerakan-gerakan kecil dan sederhana seperti menoleh ke kanan, atau ke kiri.
Sementara pada usia 8-12 bulan, bayi dapat mencari sumber bunyi seperti dengan menoleh ke atas, atau ke bawah.
Di umur 10 bulan, bayi mulai bisa mengulang kata-kata yang ia dengar, hingga pada usia 12 bulan mungkin bayi mulai dapat mengucapkan 1 atau 2 kata yang bermakna seiring dengan fungsi pendengaran dan bicara yang baik.
Menurut dr Benny, apabila tahapan normal ini tak terlihat, sebaiknya orangtua perlu waspada.
Segera periksakan anak ke rumah sakit, sehingga dokter dapat melakukan langkah pemeriksaan serta tindakan penanganan selanjutnya.
"Jadi prinsip dari penanganan gangguan pendengaran pada bayi dan anak ini, kita harus skrining dan deteksi sedini mungkin. Kemudian juga intervensi sedini mungkin, supaya anak tersebut diharapkan pada umur 3 tahun akan sama kemampuan bicaranya pada anak yang pendengarannya normal,"
"Jadi diharapkan orangtua yang sudah merasa curiga bayi dan anaknya alami gangguan pendengaran, periksa ke dokter THT. Jangan tunggu nanti," pungkasnya.